Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Bisa Perkuat Industri Domestik?
Di tengah tekanan eksternal, sejumlah kalangan menilai depresiasi rupiah justru dapat membuka ruang penyesuaian struktural bagi perekonomian RI
Penulis:
Malvyandie Haryadi
Editor:
Sanusi
"Pelemahan mata uang rupiah ini sudah kompleks. Baik dari eksternal maupun internal itu semua berdampak," tutur Ibrahim saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (19/5/2026).
Terganggunya distribusi minyak mentah melalui Selat Hormuz membuat harga minyak dunia melonjak dan mendorong penguatan dolar AS.
"Blokade Selat Hormuz ini dampaknya cukup luar biasa terhadap transportasi minyak mentah. Sampai saat ini benar-benar tertutup rapat, sehingga transportasi minyak ini benar-benar buntu dan ini yang membuat permintaan minyak cukup tinggi sehingga harga minyak naik, dolar pun juga ikut mengalami kenaikan," jelasnya.
Selain faktor eksternal, Ibrahim mengatakan tekanan terhadap rupiah juga datang dari tingginya kebutuhan dolar di dalam negeri, terutama untuk impor minyak.
"Kebutuhan minyak, impor minyak Indonesia itu cukup tinggi, 1,5 juta barel per hari. Sedangkan dipatok di APBN itu (dolar) adalah di Rp 16.500 dan minyak dipatok di 70 dolar per barel," ucapnya.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan dolar pemerintah meningkat karena asumsi makro dalam APBN tidak lagi sesuai dengan kondisi pasar saat ini.