Dari Inkubasi ke Industri, Startup Hijau RI Masih Hadapi Hambatan
banyak startup yang memiliki inovasi kuat di tahap awal, namun belum memiliki model bisnis yang matang untuk bertahan dalam kompetisi industri.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Ekosistem startup hijau Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam transisi dari inkubasi ke skala industri, terutama di sektor energi, lingkungan, dan AI
- Banyak startup belum siap secara bisnis dan pendanaan untuk bersaing global.
- Maju:On mendorong solusi lewat inkubasi, pendanaan, dan kolaborasi ekosistem.
TRIBUNNNEWS.COM, JAKARTA - Ekosistem startup hijau Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam proses transisi dari tahap inkubasi menuju skala industri, terutama di sektor energi bersih, lingkungan, dan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Meski minat dan jumlah startup terus bertumbuh dalam beberapa tahun terakhir, banyak inovasi dinilai belum sepenuhnya siap masuk ke fase komersialisasi yang berkelanjutan dan kompetitif di pasar global.
CEO UD Impact (lembaga pendidikan kewirausahaan, pengembangan startup, dan solusi di bidang Environmental, Social, and Governance), Kim Jeong-heon, menegaskan persoalan utama yang dihadapi startup saat ini bukan lagi sekadar pada kekuatan ide, melainkan pada kemampuan eksekusi bisnis dan kesiapan untuk berkembang secara berkelanjutan.
Baca juga: 90 Pendiri Startup dan Investor ASEAN Ramaikan Innovate for Impact Day 2026
Menurut dia, banyak startup yang memiliki inovasi kuat di tahap awal, namun belum memiliki model bisnis yang matang untuk bertahan dalam kompetisi industri.
“Dengan dukungan infrastruktur berbasis AI, kami membantu startup mengembangkan ide menjadi model bisnis yang lebih matang dan siap dikomersialisasikan,” ujar Kim dalam kegiatan Maju:On The Final Demo Day yang digelar di Jakarta belum lama ini.
Dalam program tersebut, 10 startup terpilih menampilkan berbagai inovasi yang berfokus pada keberlanjutan dan transformasi digital. Adapun startup yang berpartisipasi yakni Mecara Tech, Weara Tech, Aigra, Gisact, Aruponic, Jelajah Rattan, Life Guards, Catalyssum, GoTani, dan Manacaina.
Dikatakannya, inovasi yang dipamerkan mencakup solusi energi terbarukan, pengelolaan limbah ramah lingkungan, teknologi pertanian berkelanjutan, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung agenda keberlanjutan.
Kim Jeong-heon menambahkan, meskipun jumlah startup di Indonesia terus meningkat, sebagian besar masih menghadapi hambatan serius pada tiga aspek utama, yakni akses pendanaan lanjutan, kesiapan model bisnis, serta kemampuan menembus pasar global.
Baca juga: Daftar Pendiri Startup yang Pertahankan Pertumbuhan Tinggi di Tengah Dinamika Global
Dalam konteks ekonomi digital, Indonesia saat ini menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen serta visi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.
"Namun, tantangan yang dihadapi ekosistem startup adalah bagaimana mendorong perusahaan rintisan agar mampu naik kelas dari tahap prototipe menjadi bisnis yang berkelanjutan dan kompetitif," katanya.
Di sektor energi dan lingkungan, kata dia tantangan tersebut semakin kompleks karena membutuhkan investasi yang besar, kepastian pasar, serta dukungan regulasi lintas sektor yang konsisten.
Melalui program ini para peserta tidak hanya mempresentasikan inovasi, tetapi juga diuji dari sisi kesiapan bisnis dan strategi ekspansi ke pasar yang lebih luas.
"Program ini mencakup sesi pitching, mock investment session, serta peluncuran MAJU:ON Fund yang dirancang untuk memperluas akses pendanaan bagi startup tahap awal," tuturnya.
Selain itu, sesi business matching dan networking juga membuka peluang kolaborasi antara startup dengan investor, pemerintah, pelaku industri, serta institusi pendidikan dalam memperkuat ekosistem inovasi nasional.