Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Pengamat INDEF Nilai Pemulihan Blackout Sumatra Dilakukan Bertahap dan Terukur demi Stabilitas

blackout Amerika Utara pada 2003 yang berkembang menjadi gangguan sistemik hingga menyebabkan lebih dari 100 pembangkit

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Sanusi
zoom-in Pengamat INDEF Nilai Pemulihan Blackout Sumatra Dilakukan Bertahap dan Terukur demi Stabilitas
Tribunnews.com/dok. Tribun Medan
LISTRIK MASIH PADAM - Listrik di kawasan Jalan Melati, Kecamatan Siantar Barat, Kota Pematangsiantar belum menyala akibat blackout PLN se-Sumbagut sejak Jumat petang, 22 Mei 2026. Foto diambil Sabtu malam. 

“Karena itu publik perlu memahami bahwa blackout pada sistem interkoneksi besar berbeda dengan gangguan listrik lokal. Ketika sistem besar mengalami gangguan frekuensi, penyalaannya tidak bisa sekadar dinyalakan kembali seperti saklar. Harus ada tahapan sinkronisasi dan stabilisasi agar tidak muncul gangguan susulan,” jelasnya.

Meski demikian, Abra menilai peristiwa ini juga perlu menjadi momentum evaluasi struktural terhadap desain ketahanan sistem transmisi kelistrikan nasional, khususnya di Sumatra.

Menurutnya, sistem kelistrikan Sumatra masih memiliki karakter jaringan yang cenderung memanjang dan radial di sejumlah koridor, sehingga ketika terjadi gangguan pada ruas transmisi strategis, dampaknya berpotensi merambat lebih luas ke wilayah lain.

“Ke depan, kita tidak cukup hanya bicara penambahan pembangkit. Sistem transmisi juga harus dibuat lebih kuat dan adaptif. Dalam konteks Sumatra, jaringan yang terlalu memanjang dan kurang memiliki alternatif jalur evakuasi daya akan membuat sistem lebih rentan ketika satu titik transmisi mengalami gangguan,” ujar Abra.

Ia menegaskan, arah pembangunan Green Enabling Super Grid sebagaimana tercantum dalam RUPTL 2025–2034 menjadi sangat relevan.

“Pelajaran penting dari blackout Sumatra adalah transmisi tidak boleh dipandang sebagai infrastruktur pasif. Transmisi harus menjadi sistem yang moving, lebih agile, adaptif, dan cerdas. Jadi bukan hanya kabel yang mengalirkan listrik dari titik A ke titik B, tetapi jaringan yang mampu membaca kondisi sistem, mengalihkan aliran daya, dan menjaga stabilitas ketika terjadi gangguan,” kata Abra.

Abra juga menilai pemerintah dan PLN perlu menjadikan kejadian ini sebagai dasar percepatan investasi pada transmisi, gardu induk, sistem proteksi, automatic generation control, battery energy storage system, digital substation, dan teknologi pemantauan sistem berbasis real-time.

Rekomendasi Untuk Anda

Menurutnya, investasi pada infrastruktur transmisi harus dipandang sebagai investasi ketahanan ekonomi, bukan semata biaya teknis kelistrikan.

Baca juga: PLN Ungkap Kronologis Blackout di Sumatra, Pastikan Pasokan Listrik Sudah Normal Hari Ini

Penjelasan PLN Soal Blackout

Perusahaan Listrik Negara (PLN) menjelaskan bahwa gangguan kelistrikan massal yang melanda wilayah Sumatra sejak Jumat (22/5/2026) dipicu oleh faktor cuaca ekstrem berupa hujan deras dan angin kencang.

Direktur Transmisi PLN Edwin Nugraha Putra menjelaskan, gangguan bermula pada pukul 18.44 WIB saat transmisi 275 kV New Aur Duri menuju Sumsel 5 mengalami gangguan, yang menyebabkan kedua sirkuit transmisi tersebut trip dan memutus aliran listrik pada jalur utama 500 kV di bagian timur.

Akibat terputusnya jalur timur, aliran arus listrik secara otomatis berpindah ke jalur barat (275 kV). Perpindahan beban yang mendadak ini menimbulkan fenomena power swing atau osilasi tinggi pada tegangan dan frekuensi sistem.

Untuk mencegah kerusakan yang lebih luas, sistem di jalur barat terpaksa melakukan isolasi diri (trip), yang mengakibatkan sistem kelistrikan Sumatra terpecah menjadi dua bagian.

Pemisahan sistem ini menciptakan ketidakseimbangan frekuensi di mana sisi selatan mengalami kelebihan beban pembangkit, sementara sisi utara mengalami kekurangan.

Di sisi selatan, sistem proteksi berhasil bekerja sehingga sebagian besar wilayah Palembang dan Lampung tetap aman dari pemadaman. Namun, kondisi berbeda terjadi di sisi utara di mana rendahnya frekuensi menyebabkan pembangkit listrik tidak mampu bertahan.

Penurunan frekuensi yang drastis di sisi utara memicu efek domino, di mana pembangkit listrik mengalami trip secara beruntun. Kondisi ini akhirnya menyebabkan pemadaman listrik meluas di berbagai wilayah, meliputi Jambi, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh.

Pihak PLN menegaskan bahwa kejadian ini murni merupakan gangguan teknis akibat anomali cuaca yang memaksa sistem keamanan kelistrikan untuk bekerja

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas