Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Pemerintah Minta PLN Lakukan Evaluasi Imbas Blackout di Sumatera

Kata Yuliot, pemerintah telah meminta kepada PLN untuk melakukan perbaikan sistem dan mengkaji penyebab padamnya listrik di Sumatera.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Sanusi
zoom-in Pemerintah Minta PLN Lakukan Evaluasi Imbas Blackout di Sumatera
Tribunnews.com/Chaerul Umam
BLACKOUT SUMATERA - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (25/5/2026). 

"Jadi di PLN itu kan ada ada regulasinya. Kami akan cek terlebih dahulu," tukas dia.

Baca juga: Pengamat INDEF Nilai Pemulihan Blackout Sumatra Dilakukan Bertahap dan Terukur demi Stabilitas

PLN Ungkap Kronologis Blackout di Sumatera 

Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengungkap kronologis gangguan kelistrikan atau blackout yang terjadi di wilayah Sumatra sejak Jumat (22/5/2026) pekan lalu yang diduga akibat faktor cuaca.

Hal itu dikatakan Direktur Transmisi PLN Edwin Nugraha Putra dalam konferensi pers di Kantor Bareskrim Polri, Jakarta pada Senin (25/5/2026).

Ia mengatakan jalur pelistrikan pada sistem di Sumatra terdapat dua jalur utama yang membawa energi yakni jalur selatan di Palembang dan Lampung, dan jalur utara yang ada di Riau, Jambi, Sumatera Utara, dan Aceh.

"Ada jalur di sebelah timur, koridor 500 kV kami sebutkan. Kemudian ada jalur barat 275 kV," ucap Edwin.

Kemudian, Jumat sekira pukul tepatnya 18.44 WIB, terjadi gangguan pada transmisi 275 kV New Aur Duri ke arah Sumsel 5 yang merupakan inputan menuju jalur 500 kV yang ada di bagian timur.

"Nah ini terjadi, kemudian kedua sirkuitnya trip sehingga jalur 500 kV keluar dari sistem. Ini diduga karena terjadi kondisi cuaca yang pada saat itu hujan dan angin kencang," ucapnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia mengatakan ketika aliran arus yang biasanya menuju jalur timur menuju dari selatan ke utara itu putus, maka aliran tadi berbalik ke selatan dan berpindah ke arah barat, ke arah 275 kV.

"Nah, perpindahan arus tadi tersebut, itu menyebabkan fenomena yang kami sebut power swing, atau biasanya kita kenal dengan osilasi. Jadi tegangan maupun frekuensi berosilasi sangat tinggi pada saat itu karena berpindahnya ke arah 275 kV tadi," tuturnya.

Menurutnya, ketika osilasi tersebut sampai pada satu tahap teknikal tertentu, maka di jalur barat atau di jalur 275 kV, itu juga perlu mengisolasikan diri agar jangan sampai power swing tadi itu menyebabkan gangguan yang lebih luas.

"Nah ketika trip, maka terpisah sistem di Sumatera. Ada bagian selatan yang berlebih dengan pembangkit, di situ frekuensinya tinggi. Kemudian ada di sisi utara yang kekurangan pembangkit, di situ frekuensinya rendah," jelasnya.

"Di bagian selatan, karena frekuensinya rendah, ada beberapa pembangkit yang kemudian trip, lalu ada defense scheme kami yang bekerja sehingga sistem di sisi selatan kemudian normal. Tidak ada pemadaman di daerah Lampung dan sebagian besar daerah Palembang, tidak ada padam," sambungnya.

Karena frekuensi rendah, kata Edwin, pembangkit-pembangkit ada yang tidak tahan, kemudian trip, lalu terjadi domino effect.

"Trip satu, kemudian pembangkit-pembangkit lain frekuensinya semakin turun, kemudian akhirnya pembangkit-pembangkit di bagian utara trip semua, sehingga pelanggan-pelanggan kami di Jambi, di Riau, Sumbar, Sumut, dan Aceh mengalami pemadaman," ungkapnya.

Selanjutnya, ketika sistem transmisi normal, maka berikutnya akan beralih ke sistem pembangkitan. Pembangkit-pembangkit ada kami bagi dalam tiga bagian besar.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas