Nilai Tukar Rupiah Terjun Bebas Hampir Sentuh Rp17.900 per Dolar AS, Berikut Faktor Pemicunya
Tekanan domestik berasal dari kebutuhan dolar yang meningkat, beban utang, serta kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dan arus modal keluar.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Lalu ketika ditanya akankah melakukan pengujian kembali ketahanan APBN buntut tren anjloknya nilai tukar rupiah, Purbaya mengatakan tidak akan melakukannya.
Dia mengungkapkan hal tersebut tidak akan dilakukan karena pihaknya telah menghitung APBN dengan asumsi harga minyak dunia menyentuh 100 dolar AS per barel.
Purbaya pun lantas berkelakar dirinya yang akan stres jika harga minyak dunia melebihi asumsi.
"Ya saya stres (kalau harga minyak dunia melebihi asumsi). Nggak (ada pengujian kembali ketahanan APBN). Kita udah hitung pada waktu simulasi 100 dolar per barel, asumsi rupiahnya juga sudah kita perhitungkan."
"Jadi enggak ada masalah. Saya enggak harus hitung ulang APBN-nya," tuturnya.
Di sisi lain, Purbaya mengungkapkan dampak dari anjloknya rupiah yakni imbal hasil (yield) di pasar obligasi Indonesia mengalami penurunan.
Ia mengatkan hal itu buntut dari pemerintah yang melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) treasury operation demi menjaga stabilitas nilai tukar.
Purbaya mengatkan selama pasar obligas Indonesia terkendali, aliran modal asing masuk.
Setelah itu, sambungnya, akan ada langkah yang akan dilakukan pemerintah dalam menjaga nilai tukar rupiah secara signifikan.
Namun, ia tidak menjelaskan langkah seperti apa yang akan dilakukan.
"Jadi selama bond market terkendali, kemauan investor untuk asing ya, terutamanya untuk melakukan investasi dan pasti juga bond kita akan terjaga juga."
"Kita sudah mulai melihat aliran masuk modal asing ke pasar obligasi kita. Dan ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu nilai tukar rupiah dengan lebih signifikan," katanya.
Dampak Pelemahan Rupiah
Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) Daniel Suhardiman mengatakan, industri elektronika nasional saat ini masih sangat bergantung pada bahan baku dan komponen impor karena keterbatasan pasokan dari dalam negeri.
"Pelemahan Rupiah ini tentunya menjadi beban tambahan bagi industri, di satu sisi kami masih berjuang untuk mengatasi kenaikan harga material dan komponen yang sangat signifikan. Sebagai informasi, rantai pasok industri elektronika saat ini sekitar 60 persen masih bergantung impor karena ketidaktersediaan di dalam negeri," tutur Daniel kepada Tribunnews.com, Kamis (28/5/2026).