Stok Susu Nasional Tertekan Imbas Program MBG, Pemerintah Mulai Kewalahan
Salah satu upaya dilakukan adalah lewat program restrukturisasi mesin dan peralatan industri yang memungkinkan pelaku usaha bisa peroleh penggantian..
Penulis:
Rizki Sandi Saputra
Editor:
willy Widianto
“Saat ini ada 29.670 dapur yang sudah beroperasi. Kemudian, ada 63.013.000 lebih penerima manfaat. Setiap SPPG diwajibkan memberikan minuman atau susu ini dua kali dalam seminggu,” kata Gunalan.
“Nah, sehingga untuk kebutuhan susu yang sangat besar ini, kami juga agak kewalahan,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, tantangan terbesar terjadi di daerah-daerah terpencil yang masih menghadapi persoalan distribusi dan keterbatasan akses transportasi.
Selain itu, besarnya volume kebutuhan dari program MBG juga mulai memberikan tekanan terhadap stok susu yang tersedia di pasar umum.
“Nah, sehingga memang ada dua penyebab utama sebenarnya. Yang pertama adalah daerah-daerah yang terpencil, misalnya mungkin karena transportasi ke sana agak susah. Kemudian, yang kedua, tadi karena besarnya jumlah penerima manfaat,” jelasnya.
Dalam situasi tertentu, sejumlah dapur MBG akhirnya terpaksa melakukan substitusi ketika pasokan susu tidak tersedia.
Baca juga: Penerima MBG Makin Banyak, BGN Klaim Kewalahan Penuhi Kebutuhan Susu
Menurut Gunalan, petugas dapur di lapangan biasanya mengganti susu dengan sumber protein dan kalsium lainnya agar kebutuhan gizi penerima manfaat tetap terpenuhi.
“Rekan-rekan kami di lapangan, khususnya yang di dapur, apabila tidak mendapatkan susu di pasar, itu biasanya mereka mengganti dengan sumber protein lainnya,” tegasnya.