Nilai Tukar Rupiah Makin Terpuruk, Tembus Rp17.917 per Dolar AS
Pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah melemah 34 poin menjadi Rp17.839 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.805 per dolar AS.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
"Adapun secara tahun kalender (year-to-date/ytd) inflasi tercatat sebesar 1,35 persen dan secara bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,28 persen," kata dia.
Lebih jauh, berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026, setelah terkontraksi ke 49,1 pada April 2026.
Kendati menunjukkan sinyal positif, sektor industri di RI kata dia, masih dibayangi tekanan biaya bahan baku yang melonjak dan gangguan pasokan yang menahan laju produksi.
"Berdasarkan laporan S&P Global, posisi PMI pada Mei mengindikasikan kondisi operasional manufaktur yang stabil setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya," kata dia.
"Perbaikan terutama ditopang oleh peningkatan permintaan domestik yang mendorong kenaikan pesanan baru selama 2 bulan berturut-turut. Kenaikan pesanan baru pada Mei menjadi yang tercepat sejak Februari," sambung Ibrahim.
Kemudian, BPS merilis surplus neraca perdagangan Indonesia masih berlanjut hingga April 2026 meski ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global belum mereda.
Tak cukup di situ, kinerja ekspor nonmigas, terutama dari sektor industri pengolahan, menjadi penopang utama surplus perdagangan nasional.
"Surplus neraca perdagangan secara kumulatif Januari-April 2026 mencapai 5,64 miliar dolar AS. Neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," kata dia.
Dirinya lantas menyarankan agar pemerintah terus memperkuat pasar domestik untuk meredam guncangan yang datang dari kebijakan-kebijakan tak terduga Donald Trump di masa depan.
"Jika harga energi terus naik akibat konflik Iran, maka biaya produksi di dalam negeri akan membengkak," pungkas Ibrahim.