Saran Akademisi kepada Pemerintah Pasca-Kenaikan Harga Pertamax
pemerintah harus bisa melakukan komunikasi publik secara empatik, terutama di tengah munculnya kemarahan publik.
Penulis:
Choirul Arifin
Editor:
Sanusi
Selain itu, petugas juga mengumumkan melalui pengeras suara bahwa Pertalite sedang dalam proses pengiriman.
Pantauan di lokasi sekitar pukul 09.30 WIB menunjukkan suasana SPBU yang lebih lengang dibanding hari-hari biasanya. Tidak terlihat antrean panjang kendaraan yang hendak mengisi BBM. Hanya beberapa kendaraan yang tampak mengantre di jalur Pertamax.
Sejumlah pengendara, khususnya pengemudi ojek online, mengaku terpaksa membeli Pertamax karena tangki kendaraan mereka sudah hampir kosong.
"Tadi niatnya mau beli full. Tapi karena Pertalite kosong, akhirnya beli Pertamax cuma Rp 20.000 dapat 1,2 liter asalkan enggak mogok aja di jalan. Nanti beli lagi di pom yang ada Pertalite," ujar Roni (45) pengendara ojol yang usai isi Pertamax.
Menurutnya, kenaikan harga Pertamax membuat banyak masyarakat beralih ke Pertalite sehingga berpotensi menimbulkan kelangkaan.
"Kalau bisa ya turunin lagi Pertamax. Karena kan meskipun Pertalite enggak naik, tapi kalau Pertamaxnya naik tinggi, orang pada pindah ke Pertalite. Ya ujung-ujungnya kayak gini, Pertalite langka. Kalaupun ada, antreannya panjang banget, jadi makan waktu," kata dia.
Antrean Mengular di Gresik
Dampak serupa terjadi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Antrean panjang kendaraan roda dua terlihat di SPBU 54.611.15 Jalan Veteran, Kecamatan Kebomas, Kamis (11/6/2026).
Selain karena beberapa SPBU lain mengalami kekosongan stok Pertalite, pengisian BBM di lokasi tersebut juga hanya dilayani satu petugas sehingga memperlambat pelayanan.
Akibatnya, masyarakat harus menunggu lebih dari 15 menit hanya untuk mendapatkan sekitar dua liter Pertalite.
"Akibatnya pengiriman paket menjadi telat, sebab antri panjang mengisi bensin pertalite (BBM)," kata Viky, yang bekerja sebagai kurir paket.