Selat Hormuz Dibuka, Anggota DPR Desak Pertamina Turunkan Harga Pertamax
Pemerintah dan Pertamina diminta segera mengevaluasi harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi menyusul turunnya harga minyak dunia.
Penulis:
Fersianus Waku
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Pemerintah dan PT Pertamina (Persero) diminta segera mengevaluasi harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi menyusul turunnya harga minyak dunia.
- Harga minyak dunia turun hampir 5 persen pada perdagangan Senin setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan sudah ada kesepakatan menghentikan perang antara AS dengan Iran.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam meminta pemerintah dan PT Pertamina (Persero) segera mengevaluasi harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi menyusul turunnya harga minyak dunia setelah ada kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Harga minyak dunia turun hampir 5 persen pada perdagangan Senin (15/6/2026) setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan sudah ada kesepakatan menghentikan perang antara AS dengan Iran dan Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz.
Selat Hormuz dilaporkan akan dibuka sepenuhnya pada hari Jumat, 19 Juni 2026, menyusul kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan pada 14-15 Juni 2026.
"Ketika perang memanas, rakyat diminta memahami kenaikan harga BBM karena harga minyak dunia melonjak. Maka ketika perang mereda, Selat Hormuz kembali aman, dan harga minyak dunia turun, rakyat juga menuntut hal yang sama, manfaatnya harus segera dirasakan," kata Mufti kepada wartawan, Senin (15/6/2026).
Mufti menyatakan, upaya menurunkan harga BBM kerap terlambat dieksekusi sementara kenaikan harga cepat direalisasikan ketika harga minyak mentah dunia sedang naik.
"Jangan sampai logikanya hanya berlaku satu arah. Saat harga minyak naik, harga BBM cepat menyesuaikan. Tetapi saat harga minyak turun, yang muncul justru berbagai alasan untuk menunda penyesuaian," ujarnya.
Mufti mengingatkan, pergerakan harga BBM berdampak luas di masyarakat terutama kelas menengah dan bawah. "Setiap kenaikan BBM selalu berdampak ke tarif transportasi, biaya logistik, harga pangan, biaya produksi UMKM, hingga daya beli masyarakat," ungkapnya.
Baca juga: Qodari Bela Keputusan Pemerintah Naikkan Harga Pertamax
Mufti mendesak pemerintah dan Pertamina menurunkan lagi harga BBM nonsubsidi.
"Jika memang ruang penurunan sudah tersedia, jangan ditunda. Rakyat tidak boleh terus menjadi pihak yang pertama menanggung dampak gejolak global, tetapi terakhir menikmati manfaat ketika keadaan membaik," imbuhnya.
Baca juga: Kenaikan Harga BBM dan Pelajaran Pahit Ketergantungan Energi Indonesia
Di sisi lain, harga BBM nonsubsidi di Indonesia saat ini masih melambung tinggi. Harga Pertamax dibanderol Rp 16.250 per liter, naik drastis Rp 3.950 dari sebelumnya Rp 12.300 per liter.
Saat ini harga BBM Ron 92 (Pertamax) naik menjadi Rp16.250 per liter dan harga Pertamax Green naik Rp4.100 per liter menjadi Rp 17.000.