Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Profesor Penyakit Menular Jepang: Kelembaban 50% Terbaik Untuk Antisipasi Corona

Dari penelitian kami terlihat kelembaban udara yang terbaik untuk mengantisipasi virus corona adalah 50%. Kalau terlalu rendah atau terlalu lembab,

Profesor Penyakit Menular Jepang: Kelembaban 50% Terbaik Untuk Antisipasi Corona
Richard Susilo
Profesor Yoshihito Niki, Wakil Direktur Pusat Pernafasan, Rumah Sakit Kurashiki Daiichi, Profesor Penyakit Menular Klinis, Sekolah Kedokteran Universitas Showa Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Profesor Yoshihito Niki, Wakil Direktur Pusat Pernafasan, Rumah Sakit Kurashiki Daiichi, Profesor Penyakit Menular Klinis, Sekolah Kedokteran Universitas Showa Jepang menekankan kelembaban udara paling baik untuk mengantisipasi virus Corona adalah 50%.

"Dari penelitian kami terlihat kelembaban udara yang terbaik untuk mengantisipasi virus corona adalah 50%. Kalau terlalu rendah atau terlalu lembab, akan meningkatkan kekuatan virus bertahan hidup lama," paparnya di Fuji TV kemarin (14/10.2020).

Profesor Niki melihat virus Corona mirip dengan influenza baru itu sebenarnya tidak terlalu ganas apabila bisa diambil tindakan cepat pada waktunya untuk mengelimir (membatasi penyebaran) virus tersebut.

“Keakuratan tes antigen belum cukup diverifikasi, pada prinsipnya kita harus menggunakan tes PCR, dan setidaknya diperlukan 100.000 tes per hari,” tambahnya.

Baca juga: Jepang Perkenalkan Maskot Anti Virus Corona Baru yang Bagikan Masker Gratis

Niki juga mengatakan gelombang infeksi kedua bisa lebih besar dari yang pertama, seperti dalam kasus flu Spanyol, yang dimulai pada 1918.

Gelombang Covid-19 di Jepang diperkirakan d\terjadi pada musim dingin mendatang di Jepang.

"Sekitar 200.000 hingga 300.000 tes harus diamankan sehingga kami dapat merespons gelombang kedua yang mungkin dua atau tiga kali lebih besar," katanya.

Institusi kesehatan masyarakat sudah mendekati kapasitas penuh dalam pengujian mereka, sehingga universitas diharapkan memainkan peran kunci dalam peningkatan tes di masa mendatang, harapnya lebih lanjut.

Profesor Niki lulus dari Kawasaki Medical University pada tahun 1976. Masuk ke Department of Respiratory Medicine, Universitas Kedokteran Kawasaki pada 1978, dan belajar di luar negeri di Minnesota University Amerika Serikat.

Pada tahun 1982 Asisten Departemen Pengobatan Pernafasan, Universitas Kedokteran Kawasaki.

Lalu pada tahun 1983, ia menjadi dosen di Department of Respiratory Medicine, Universitas Kedokteran Kawasaki.

Dari 1988 hingga 1990, belajar di luar negeri di New York Memorial Sloan-Kettering Center di Amerika Serikat, dan menjadi dosen di Departemen Pengobatan Pernafasan, Universitas Kedokteran Kawasaki.

Pada tahun 2006 Wakil Direktur Pusat Pernafasan, Rumah Sakit Kurashiki Daiichi, Profesor Penyakit Menular Klinis, kini profesor dosen tetap Sekolah Kedokteran Universitas Showa.

Sementara itu baru saja terbit Buku "Rahasia Ninja di Jepang", pertama di dunia cerita non-fiksi kehidupan Ninja di Jepang dalam bahasa Indonesia, silakan tanyakan ke: info@ninjaindonesia.com

Ikuti kami di
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas