Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Penanganan Covid

Program Donor Plasma Konvalesen BUMN Diharapkan Picu Pendonoran Skala Nasional

mahalnya biaya skrining bagi calon pendonor plasma konvalesen menjadi kendala tersendiri bagi ketersediaan plasma

Program Donor Plasma Konvalesen BUMN Diharapkan Picu Pendonoran Skala Nasional
Surya/Ahmad Zaimul Haq
Petugas menunjukkan plasma konvalensen dari pendonor di Unit Tranfusi Darah Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya, Jawa Timur, Selasa (16/2/2021). Kebutuhan plasma konvalesen meningkat hingga 200 kantong per hari, oleh karenanya diharapkan penyintas Covid-19 bersedia mendonorkan plasmanya untuk membantu penanganan pasien Covid-19 yang masih dirawat. Surya/Ahmad Zaimul Haq 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Pakar Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah mendukung Program Plasma BUMN untuk Indonesia yang telah diluncurkan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir.

Program itu sebagai bentuk dorongan Kementerian BUMN pada program Gerakan Nasional Donor Plasma Konvalesen yang dicetuskan oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Trubus menilai apa yang dilakukan oleh Erick Thohir itu perlu ditiru oleh Kementerian atau lembaga pemerintah serta pemerintah daerah untuk menekan angka kasus penderita Covid 19.

Baca juga: Menko PMK Minta Terapi Plasma Konvalesen Disegerakan, Jangan Sampai Pasien Covid-19 Kritis

Trubus menambahkan, gerakan donor plasma itu wujud kepedulian terhadap masyarakat yang sangat membutuhkan donor plasma bagi kesembuhan pasien positif Covid 19.

“Malahan kalau bisa mendorong agar semuanya menjadi program nasional gitu, jadi nanti setidak-tidaknya nanti membentuk imun kelompok sendiri, jadi orang-orang yang di plasma itu jauh lebih sehat bisa bertahan,” ujar Trubus saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (18/2).

Baca juga: Kemenkes Minta Rumah Sakit Siapkan Pendonor Plasma Konvalesen

Namun, Trubus berpendapat mahalnya biaya skrining bagi calon pendonor plasma konvalesen menjadi kendala tersendiri bagi ketersediaan plasma, selain itu ia menyebut biaya untuk mendapatkan plasma terbilang mahal, untuk itu ia meminta pemerintah untuk melakukan inovasi agar biaya lebih terjangkau.

“Saya sarannya supaya costnya jangan mahal-mahal cuma dia efektif mengobati pasien Covid, karena dia terus punya imun kuat lebih kuat, diusahakan supaya itu lebih praktis lebih murah, kaya rapid test itukan dulu mahal, ternyata sekarang genose cuma 15 ribu, kalau sekarang plasma masih mahal, tapi bagaimana ada inovasi yang kemudian menjadi murah, terjangkau oleh masyarakat umum jadi publik menikmati,” tutur Trubus.

Sebelumnya, Erick Thohir menuturkan, donor plasma konvalesen merupakan salah satu terapi tambahan untuk mengobati pasien Covid-19 sehingga bisa meningkatkan angka kesembuhan dan menekan kematian akibat Covid-19.

Baca juga: Berikut Syarat Pendonor Plasma Konvalesen, Plasma Yang Mampu Sembuhkan Penderita Covid-19

“Pendaftar donor plasma ada 1.048 orang, terdiri dari 66 BUMN di 33 provinsi. Insya Allah kerja sama yang dilakukan antara BUMN dan PMI ini bisa terus bergulir. Sebab seperti yang disampaikan Bapak Jusuf Kalla bahwa setiap 400 CC (plasma) bisa menyelamatkan 2 nyawa manusia dan ini memang sangat penting bagaimana terus menekan jumlah kematian akibat Covid-19,” imbuh Erick.

Program “Plasma BUMN untuk Indonesia” ini kata Erick, diluncurkan untuk mendorong karyawan dan keluarga BUMN yang sudah pernah terinfeksi corona untuk menyelamatkan pasien Covid-19. Ia berharap, nantinya semua yang sudah terinfeksi dan sesuai persyaratan, mau mendonorkan plasma nya untuk sesama.

Ikuti kami di
Penulis: Dennis Destryawan
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas