Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Penanganan Covid

Uji Klinis Pengobatan Covid-19 'Studi Recovery' Akan Dilakukan di Indonesia

Erni Juwita Nelwan mengatakan uji acak evaluasi terapi Covid-19 atau yang disebut studi Recovery akan segera dilaksanakan di Indonesia.

Uji Klinis Pengobatan Covid-19 'Studi Recovery' Akan Dilakukan di Indonesia
Tribunnews.com/Dennis Destyawan
Kepala studi Recovery Indonesia Erni Juwita Nelwan saat konferensi pers virtual, Jumat (19/2/2021). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Kepala Studi Recovery Indonesia, Erni Juwita Nelwan mengatakan uji acak evaluasi terapi Covid-19 atau yang disebut Studi Recovery akan segera dilaksanakan di Indonesia.

Studi Recovery adalah uji klinis terbesar di dunia untuk mengevaluasi pengobatan Covid-19.

Menurut Erni, Studi Recovery yang dilaksanakan di Inggris sebelumnya telah membantu Indonesia untuk merencanakan sumber dayanya lebih efektif.

"Misalnya, klorokuin atau hidroksiklorokuin tidak lagi direkomendasikan untuk mengobati Covid-19 dan obat deksametason telah masuk dalam rekomendasi pengobatan Covid-19 di RS di Indonesia," ujar Erni melalui konferensi pers virtual, Jumat (19/2/2021).

Baca juga: Per 19 Februari Tercatat 160.142 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Sementara itu, rumah sakit pertama yang bergabung dengan Studi Recovery di Indonesia adalah RS Metropolitan Medical Centre (MMC) Jakarta, RS Martha Friska Medan, dan RS Hasan Sadikin Bandung serta beberapa rumah sakit lainnya akan segera bergabung.

Di Indonesia, studi akan diawali dengan mengevaluasi penggunaan aspirin dan kolkisin, karena obat ini sudah tersedia dan terjangkau, namun seperti pelaksanaan studi Recovery di Inggris, uji coba ini bersifat adaptif dan obat baru akan ditambahkan seiring waktu.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes Slamet mengatakan, uji klinis Recovery sangat penting untuk menemukan pengobatan Covid-19 yang efektif dan dapat digunakan di seluruh dunia.

"Meneliti obat yang terjangkau dan mudah diakses, berarti hasilnya dapat dimanfaatkan dengan cepat di Indonesia dan negara berpenghasilan rendah dan menengah lainnya," tutur Slamet.

Studi Recovery pertama kali dilaksanakan di Inggris pada Maret 2020 untuk mengevaluasi pengobatan mana yang paling efektif untuk melawan Covid-19.

Studi ini telah memberikan rekomendasi yang mengubah perawatan klinis, termasuk temuan bahwa steroid dengan harga terjangkau, deksametason, dan pengobatan anti-inflamasi, tocilizumab, secara signifikan mengurangi risiko kematian ketika diberikan kepada pasien rawat inap dengan Covid-19 berat.

Rekomendasi ini kemudian digunakan pada praktik klinis di seluruh dunia untuk membantu menyelamatkan nyawa pasien dan memprioritaskan sumber daya perawatan kesehatan.

Ikuti kami di
Penulis: Dennis Destryawan
Editor: Hasanudin Aco
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas