Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Polemik Vaksin Nusantara

MoU Vaksin Nusantara, Komisi IX: Para Peneliti Jangan Takut Melakukan Inovasi 

Melki menegaskan para peneliti di Indonesia harus terus didorong untuk membuat inovasi karya anak bangsa lainnya. 

MoU Vaksin Nusantara, Komisi IX: Para Peneliti Jangan Takut Melakukan Inovasi 
Tribunnews.com/ Eri Komar Sinaga
Melki Laka Lena. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Melki Laka Lena angkat bicara mengenai nota kesepahaman atau MoU yang telah diteken oleh KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa, Menkes Budi Gunadi Sadikin dan Kepala BPOM Penny Lukito, yang disaksikan oleh Menko PMK Muhadjir Effendi. 

Dengan adanya nota kesepahaman itu, Melki menegaskan para peneliti di Indonesia harus terus didorong untuk membuat inovasi karya anak bangsa lainnya. 

"Kami ingin mendorong para peneliti di negeri ini. Dengan melihat majunya Vaksin Nusantara terus didorong untuk diteliti, kita ingin mencari produk anak bangsa yang sesuai dengan kaidah baik itu di internasional. Karena vaksin nusantara dapat list WHO, jadi sudah memenuhi kaidah internasional sehingga bisa terdaftar di WHO," ujar Melki, kepada wartawan, Selasa (20/4/2021). 

"Para peneliti jangan takut untuk terus melakukan inovasi, terus melakukan penelitian dalam rangka menjawab berbagai kebutuhan termasuk dalam pandemi COVID-19 saat ini," imbuhnya. 

Politikus Golkar itu lantas menyinggung perihal alat tes GeNose C19 yang merupakan produk dari UGM dan sudah digunakan di stasiun hingga bandara. 

Menurutnya, Komisi IX sangat mendorong ketika GeNose C19 akan digunakan sebagai alat tes Covid-19 bagi masyarakat. 

"Hari ini juga sebenarnya vaksin nusantara dan vaksin merah putih yang saat ini dikembangkan di UI, UGM, ITB, Unair, dan LBM Eijmen, kami dorong semuanya produk-produk dalam negeri ini," kata dia. 

Komisi IX DPR RI sendiri, kata dia, mendukung penuh agar peneliti-peneliti di bangsa ini dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri, sesuai dengan amanat Presiden Jokowi Inpres No.6/2016 agar kita terus menerus melakukan percepatan produksi dan penggunaan obat dan alkes dalam negeri. 

"Dan dalam konteks pandemi COVID-19 ini, alkes kita sudah menggunakan GeNose yang sudh mulai dipakai di mana-mana untuk alat testing. Dan kita mendorong agar Vaksin Nusantara atau yang sekarang kita sebut dengan sel dendritik ini bisa menjadi jawaban atas persoalan pandemi COVID-19 di tanah air," ungkapnya. 

Baca juga: Menkes, KSAD dan BPOM Teken MoU Penelitian Sel Dendritik yang Bukan Kelanjutan Vaksin Nusantara

Lebih lanjut, Melki meminta agar masyarakat umum termasuk juga teman-teman peneliti di berbagai tempat untuk terus menerus melakukan diskusi yang objektif. 

Sebab perdebatan terkait Vaksin Nusantara juga adalah bagian dari cara untuk menemukan, mencari dan mendapatkan obat dan alkes terbaik. 

Dalam hal Vaksin Nusantara, Melki menilai vaksin ini hanya sebagai pembuka atau menjadikan semacam pendobrak agar semua bisa mulai memahami bahwa ternyata produk dalam negeri Indonesia bisa berpotensi, dipakai sendiri dan bahkan bisa menjadi solusi dunia.

"Jadi bagi masyarakat umum, kita syukuri juga bahwa perdebatan ini menjadi luas tapi sekaligus membuka mata kita bahwa produk-produk dalam negeri kita, baik itu GeNose dan hari ini Vaksin Nusantara dan Vaksin Merah Putih, kita berikan tempat yang sebesar-besarnya dan bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri," tandasnya. 

Ikuti kami di
Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas