Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Lebih Sering Menyerang Kaum Pria, Berikut Gejala Long Covid

Hasil penelitian dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) meski telah sembuh dan dinyatakan negatif Covid-19

Lebih Sering Menyerang Kaum Pria, Berikut Gejala Long Covid
Freepik
Ilustrasi Covid-19 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA --Hasil penelitian dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) meski telah sembuh dan dinyatakan negatif Covid-19, seorang penyintas masih merasakan gejala sisa yang disebut Long Covid.

Pasien COVID-19 perlu mewaspadai hal ini, meski gejala Long Covid bisa diatasi secara medis.

Kabag Pembinaan Fungsi RS Bhayangkara R. Said Sukanto, dr. Yahya Sp.P, Kombespol & dokter spesialis paru memaparkan 53,7 persen pasien merasakan gejala Long Covid selama satu bulan, 43,6 persen selama 1-6 bulan, dan 2,7 persen lebih dari 6 bulan.

Baca juga: Calo Bandara Terbitkan Ribuan Surat Bebas Covid-19 Palsu, Harganya Hingga Rp 200 Ribu/Lembar

“Gejala Long Covid dimulai dari pelemahan fisik secara umum, sesak napas, nyeri sendi, nyeri otot, batuk, diare, kehilangan penciuman, dan pengecapan," terangnya terangnya dalam diskusi KCPEN yang digelar virtual, Kamis (3/6/2021).

Secara demografi, pasien laki-laki lebih besar peluangnya terkena efek Long Covid.

Salah satu alasannya karena gaya hidup merokok.

Selain itu, satu faktor penting dari gejala Long Covid dipicu juga oleh kondisi psikologis pasien.

"Biasanya juga pasien COVID-19 yang bergejala berat atau mungkin yang berhasil sembuh setelah dibantu ventilator memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menderita Long Covid ini,” terangnya.

Baca juga: Lonjakan Kasus Covid-19 di Kudus, Komisi IX Ingatkan Pemerintah Soal Pandemic Fatigue 

Dr. Yahya menuturkan, untuk pasien yang kehilangan kemampuan penciuman dan pengecapan memang perlu dibangkitkan lagi sensitivitasnya seperti mencium bau-bau yang sangat menyengat seperti minyak kayu putih dan parfum yang sangat harum.

"Ini perlu dilatih setiap hari agar pulih secepatnya,” saran dr. Yahya.

Ahli Virologi Universitas Udayana Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika menjelaskan lebih lanjut, mengapa seseorang masih bisa merasakan gejala sisa Covid-19.

"Semua jaringan tubuh manusia bisa terinfeksi virus COVID-19 ini. Jadi Long Covid ini membuat pasien berisiko kerusakan jaringan tubuh dalam jangka panjang hingga menyebabkan gangguan respon imun dan gangguan saraf. Karena itu mohon jangan lagi menganggap remeh penyakit COVID-19 ini,” pesannya.

Baca juga: India Laporkan Tambahan Kasus Baru Covid-19 Terendah: 134.154 Kasus dan 2.887 Orang Meninggal

Masyarakat juga perlu diingatkan bahwa meskipun sudah divaksinasi, peluang tertular COVID-19 masih ada.

“Vaksin ini utamanya adalah untuk menurunkan gejala berat dan risiko kematian akibat terjangkit COVID-19. Artinya semua yang sudah divaksinasi masih berisiko terinfeksi, hanya saja jumlah virus yang menginfeksi jauh lebih sedikit daripada orang yang belum divaksinasi,” terang Prof. Mahardika.

Ikuti kami di
Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Hendra Gunawan
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas