Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Virus Corona

Keluh Kesah Pengusaha Rumah Makan Padang di Tengah Pelaksanaan PPKM 

Pemilik Rumah Makan Padang Mini Indah, Ali (40) mengatakan, peraturan PPKM merugikan pihaknya selaku pedagang.

Keluh Kesah Pengusaha Rumah Makan Padang di Tengah Pelaksanaan PPKM 
Tribunnews.com/ Rizki Sandi Saputra
Rumah Makan Padang Mini Indah milik Ali yang berlokasi di Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta Selatan, terpantau sepi pelanggan di masa PPKM Level 4, Senin (26/7/2021). 

Laporan Reporter Tribunnews.com, Rizki Sandi Saputra

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah memberikan pelonggaran kepada warung makan untuk dapat melayani pembelinya makan di tempat pada masa perpanjangan kebijakan PPKM Level 4.

Dalam aturan tersebut, pelanggan bisa makan di tempat atau dine-in dengan waktu maksimal 20 menit.

Menyikapi aturan itu, pemilik Rumah Makan Padang Mini Indah, Ali (40) mengatakan, peraturan tersebut merugikan pihaknya selaku pedagang.

"Dampaknya sangat merugikan pengusaha kecil kaya kita gini," kata Ali kepada Tribunnews.com, Senin (26/7/2021).

Bahkan kerugian tersebut dirasakan Ali jauh sebelum PPKM Level 4 diberlakukan.

Kondisi tempat usahanya yang berada tepat setelah pos penyekatan Lenteng Agung, sepi pembeli.

Baca juga: Daftar Terbaru Wilayah yang Menerapkan PPKM Level 3 dan 4 di Jawa-Bali

"Omzet pasti jauh menurun dibandingkan hari-hari biasa itu boleh dikatakan 50 persen juga enggak sampe kan omzet dengan keadaan PPKM ini," ucapnya.

Ali mengeluhkan, kondisi dagangannya yang dominan tidak bisa bertahan lama membuat dirinya harus pandai-pandai mengolah makanan agar tidak mudah basi.

Kalau tidak, maka makanan hasil olahan tersebut hanya berakhir di pembuangan sampah alias tidak layak dikonsumsi.

Baca juga: Penerima Subsidi Gaji Diperluas untuk Pekerja di Wilayah PPKM Level 3 dan 4, Ini Syaratnya

"Terutama (kerugian dirasakan) di bidang kuliner karena kuliner kan bisa bertahannya cuma sehari doang, kalau udah besoknya sudah gabisa dipake lagi otomatis lauk yang ada itu besoknya mubazir gitu," katanya.

Namun, dengan adanya kebijakan ini dirinya tetap merasa bersyukur, karena pelanggan yang semula hanya bisa bungkus makanan kini sudah bisa makan di tempat.

Akan tetapi terkait pembatasan waktu, dia mengaku tidak terlalu membebankan hal tersebut kepada pelanggannya.

Hal itu kata dia demi memberikan kenyamanan kepada pelanggan.

"Saya enggak pernah kasih waktu sih, jadi terserah mereka aja mau sampai kapan, orang (di sini) sepi juga, jadi enggak numpuk (pelanggannya) gitu," kata Ali.

Penulis: Rizki Sandi Saputra
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas