Tribun

Penanganan Covid

Program Vaksinasi Lansia Belum Capai Target, Pemerintah Sebut Hadapi Sederet Tantangan

Saat ini, program vaksinasi pada lansia masih menjadi tantangan. Apa saja tantangannya?

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Anita K Wardhani
Program Vaksinasi Lansia Belum Capai Target, Pemerintah Sebut Hadapi Sederet Tantangan
Warta Kota/Henry Lopulalan
Tenaga kesehatan melakukan vaksinasi Covid-19 yang dilakukan secara door to door atau rumah ke rumah di kawasan Sunter Agung, Sunter, Jakarta Utara, Senin (16/8/2021). Vaksinasi yang dilakukan secara door to door itu dilakukan untuk sebagai langkah percepatan vaksinasi bagi lansia dan yang mengalami kelumpuhan. Warta Kota/henry lopulalan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Saat ini, program vaksinasi pada lansia masih menjadi tantangan.

Hal ini diungkapkan oleh Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi.

Dari total 21,5 juta sasaran vaksinasi, baru 7,8 juta lansia yang mendapatkan dosis pertama. Dan baru 4,9 juta untuk dosis kedua. Artinya, baru 33 persen yang mendapatkan perlindungan dari vaksinasi artinya dosis pertama. 

Baca juga: Mudahkan Lansia, Kartu Vaksin Jemaah Umrah Bakal Dicetak untuk Scan Barcode

Baca juga: Pemerintah Gencarkan Vaksinasi dari Pintu ke Pintu

"Sedangkan kalau dosis lengkap baru 22 persen. Padahal vaksinasi lansia kita mulai awal April. Dimana prioritas lansia yang kita tahu mereka memliki tingkat kerentanan dan kematian sakit berat,"ungkapnya pada acara KPCPEN secara daring, Kamis (21/10/2021).

Namun ternyata tapi upaya ini memang belum sesuai dengan harapan. Menurut Nadia, ada beberapa tantangan yang dihadapi selama program vaksinasi. 

"Seperti lansia, kenapa kemudian cakupan vaksinasi tidak berjalan sesuai harapan. Masih ada miss persepsi pada lansia," katanya lagi. 

Dikarenakan umur, ada yang beranggapan jika lansia justru seharusnya tidak mendapatkan vaksin karena banyak efek samping yang ditimbulkan.

Kemudian ada persepsi informasi hoax yang mengatakan komorbid jangan divaksin.

Padahal, mereka yang punya komorbid harus divaksin. Selain itu kendala lain adalah ketersedian suplai vaksin dari produsen vaksin. 

"Kalau ada keterlambatan dan penundaan, maka target vaksin tidak sesuai harapan seperti yang ditentukan," pungkasnya. 

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas