Penyakit Jantung Jadi Penyebab Kematian Jemaah Haji Terbanyak
Muhaimin menjelaskan seseorang yang memiliki usia di atas 45 tahun pada laki-laki dan di atas 55 tahun pada wanita berisiko terkena penyakit jantung.
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Malvyandie Haryadi

Muhaimin mengungkapkan bahwa, jemaah haji dengan penyakit jantung masih bisa menjalankan ibadah haji dengan lancar.
Namun harus disesuaikan dengan kemampuan dan tidak memaksakan diri.
Oleh karenanya jemaah haji dengan penyakit jantung disarankan untuk menggunakan bantuan kursi roda.
Selain itu jemaah haji juga diimbau untuk menjalankan aktifitas pada malam hari untuk menghindari cuaca panas yang ekstrim.
Jamaah Diimbau Tidak Lakukan Aktivitas Berat, Ketahui Tanda-Tanda Serangan Jantung
Muhaimin pun menghimbau jamaah dengan penyakit jantung tidak dipaksakan untuk melakukan aktifitas fisik yang berat.
Solusinya bisa difasilitasi dengan penggunaan kursi roda.
"Selain itu disarankan kepada jemaah haji untuk memilih waktu yang tepat untuk melakukan ibadah wajib seperti pada malam hari untuk menghindari cuaca ekstrem," jelasnya.
Jemaah haji perlu mewaspadai tanda-tanda serangan jantung.
Seperti tiba-tiba merasa nyeri hebat di dada sebelah kiri, sesak nafas, kelelahan ekstrim, keringat dingin dan nyeri ulu hati.
Jika jemaah haji mengalami tanda-tanda seperti ini, segeralah meminta bantuan tenaga kesehatan terdekat.
Jika jemaah haji mengalami kondisi seperti ini diharapkan untuk segera memeriksakan diri ke Tenaga Kesehatan Haji yang ada di Kloter (TKH).
Selanjutnya TKH diharapkan juga bisa lebih cepat melakukan skrining dengan pemeriksaan EKG.
Alat rekam jantung /EKG sudah disediakan di setiap pos kesehatan sektor, sehingga deteksi dini penyakit jantung dapat lebih mudah dilakukan.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.