Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

Kisah Petugas Haji, Antar Nasi Bungkus 2.5 km dari Hotel ke Terowongan Jarwal Masjidil Haram

Banyak cerita suka duka jadi petugas pelayanan di puncak musim haji di Masjidil Haram,

Editor: Anita K Wardhani
zoom-in Kisah Petugas Haji, Antar Nasi Bungkus 2.5 km dari Hotel ke Terowongan Jarwal Masjidil Haram
TRIBUNNEWS.COM/THAMZIL THAHIR
Ridwan Jumhar Ismail, meneteng nasi bungkus untuk lima sejawat shift tugasnya dari Sektor 4 ke Terowongan Jarwal, Masjidil Haram, sejauh 2,5 km. Petugas BKO dari Birr Ali Madinah ini bertugas 12 jam di Haram, namun tak dapat jatah makan karena di lapangan 

Atas nama solidaritas, dia menenteng bungkusan yang kira-kira seperempat dari berat badannya, dengan berjalan sakitar 1,7 km ke Terowongan Jarwal.

Karena berseragam PETUGAS HAJI INDONESIA, dia harus memilih risiko jadi "general affair staff" para jamaah.
Tribun pun coba mengikuti Ridwan.

Dan betul, sepanjang 1 km perjalanan, setidaknya ada 4 jamaah yang datang bertanya, meminta pertolongan, atau melapor mereka kesasar.

"Inilah risiko jadi petugas haji. Harus bisa jadi solusi untuk semua keperluan jamaah. Sampai istri atau suami jamaah yang kesasar kita juga  yang harus cari."

Dan, betul saja. Dua menit berselamg, saat melintasi proyek ekspansi ketiga Masjidil Haram, seorang jemaah dari Banjarmasin, datang meminta tolong.

"Pak tolong, saya kehilangan istri disini. Saya bilang saya wudhu dulu, sebentar. Eh pas saya keluar, dia sudah hilang," kata Zainal Hakim bin Arsyad, jamaah paruh baya.

Untuk meminimalisasi kecelakaan atau membantu penyeberangan para jemaah, petugas haji menjadwalkan piket petugas penyeberangan jalan.
Untuk meminimalisasi kecelakaan atau membantu penyeberangan para jemaah, petugas haji menjadwalkan piket petugas penyeberangan jalan. (Tribun jabar/syarif)

Dia tak tahu harus mencari istrinya dimana lagi, sabab dua ponselnya, disimpan oleh istrinya, saat dia mau masuk ke toilet dan tempat wudhu.

Berita Rekomendasi

Belakangan, karena risih, si jamaah meminta petugas membantu jamaah lain.

Belum lagi, permintaan jamaah Banjar selesai, sejawat petugas lain, datang melapor.

"Itu ada jamaah Madura, kesasar. Tak bawa  kartu Identitas, tak ada telepon, dan tak bisa bahasa Indonesia."
Satu petugas lain, Doni pun mengecek gelang perak. Nama si jamaah, Syamsuddin Ahmad Safii. 

Dia kloter 6 Surabaya, asal Pamekasan.

Ternyata, jamaah di sampingnya yang juga tak bisa bahasa Indonesia, juga jamaah asal Madura, jamaah Kloter 7 SUB.

"Kan Bapak tidak tanya saya, hanya tanya bapak Kloter 6 ini, saya kan tetangga hotel juga." kata jamaah Madura lain yang temgah menunggu azan Isya.

Mendengar jawaban polos ala haji Madura itu, para petugas yang sudah kelaparan, kontan tertawa.
Nasi bungkus bawaan dari hotel pun diberikan di dekat Terowongan Jarwal.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2024 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas