Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Doa Ketika Melontar Jamrah Ula, Wusta, Aqabah dalam Ibadah Haji

Setelah mabit di Mina, jemaah haji melontar jamrah Ula, Wusta, dan Aqabah sebagai simbol penolakan terhadap godaan iblis. Berikut ini doanya.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Doa Ketika Melontar Jamrah Ula, Wusta, Aqabah dalam Ibadah Haji
Tribunnews.com
DOA MELONTAR JAMRAH - Gambar dibuat di Be Funky dan Paint, Kamis (30/4/2026). Setelah mabit di Mina, jemaah haji melontar jamrah Ula, Wusta, dan Aqabah sebagai simbol penolakan terhadap godaan iblis. Berikut ini doanya. 

Artinya: "Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar."

Atau membaca

اللَّهُ أَكْبَرْ عَلَى طَاعَةِ الرَّحْمَن،ِ وَرَعْمِ الشَّيْطَانِ اللهم
 تَصْدِيقَاً بِكِتَابِكَ وَاتَّباعاً لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ . اللَّهُمَّ اجْعَلْه
حَجَّا مَبْرُورًا وَذَتْبًا مَغْفُورًا وَعَمَلاً مَشْكُورًا

Allāhu akbar ‘alā ṭā‘atir-raḥmān, wa ragmish-syaithān. Allāhumma taṣdīqan bikitābika wattibā‘an lisunnati nabiyyika. Allāhummaj‘alhu ḥajjan mabrūran wa dzanban maghfūran wa ‘amalan masykūran.

Artinya: "Allah Maha Besar atas ketaatan kepada Allah Yang Maha Pengasih, dan kutukan bagi setan, ya Allah, dengan membenarkan kitab-kitabMu dan mengikuti sunah Nabi-Mu. Jadikanlah ibadah haji ini haji yang mabrur, dosa-dosa terampuni, dan amalan yang diterima."

Doa Setelah Melontar Jamrah

الْحَمْدُ اللَّهِ كَثِيرًا طَيْبًا مُبَارَكًا فِيهِ اللَّهُمَّ لَا أُحْصِيِّ ثَنَاءَ
عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَفَضْتُ
وَمِنْ عَذَابِكَ أَشْفَقْتُ وَإِلَيْكَ رَ بْتُ وَمِنْكَ رَهِبْتُ
فَاقْبَلْ نُسُكِي وَأَعْظِمْ أَجْرِي وَارْحَمْ تَضَ عِي وَاقْبَلْ تَوْبَي
وَأَقِلَ عَتْرَنِي وَاسْتَجِبْ دَعْوَنِي وَأَعْطِنِي سُؤْلِي اللَّهِمَّ
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِمَّا وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُجْرِمِين،َ وَأَدْخِلْنَا فِي
عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ 

Alḥamdu lillāhi katsīran ṭayyiban mubārakan fīh, Allāhumma lā uḥṣī tsanā’an ‘alayka anta kamā ats-nayta ‘alā nafsik. Allāhumma ilayka afaḍtu wa min ‘adzābika asyfaqt, wa ilayka raghibtu wa minka rahibtu. Faqbal nusukī wa a‘ẓim ajrī warḥam taḍarru‘ī waqbal taubatī wa aqil ‘athratī wastajib da‘watī wa a‘ṭinī su’lī. Allāhumma rabbanā taqabbal minnā wa lā taj‘alnā minal-mujrimīn, wa adkhilnā fī ‘ibādikaṣ-ṣāliḥīn yā arḥamar-rāḥimīn

Artinya: "Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak lagi baik dan membawa berkat di dalam-nya. Ya Allah, sekali-kali kami tidak mampu menghitung pujian untuk-Mu, sesuai pujian-Mu atas diri-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, dari siksa-Mu aku mohon belas kasihan, dan terhadap rahmat-Mu aku berharap dan atas azab-Mu aku takut. Terimalah ibadahku, perbesarlah pahalaku, sayangilah kerendahan hatiku, terimalah taubatku, perkecilah kekeliruanku, perkenankanlah permohonanku dan berikanlah permintaanku. Ya Allah kabul-kanlah doa kami, dan jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang berdosa, tetapi masukkanlah kami dalam hambaMu yang saleh wahai Tuhan Yang Paling Pengasih."

Hikmah Melontar Jamrah

Melontar jumrah bukan sekadar rangkaian ritual dalam ibadah haji, tetapi memiliki makna yang sangat dalam sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan. 

Rekomendasi Untuk Anda

Ibadah ini berakar dari kisah Nabi Ibrahim yang diuji untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail.

Dalam perjalanan tersebut, iblis berulang kali datang menggoda, baik kepada Nabi Ibrahim, Siti Hajar, maupun Nabi Ismail. Namun, ketiganya tetap teguh dalam iman dan melempar batu kerikil sebagai bentuk penolakan terhadap godaan tersebut.

Peristiwa ini kemudian diabadikan dalam ritual melontar Jamrah Ula, Wusta, dan Aqabah, sebagai pengingat bahwa godaan setan akan selalu ada dalam kehidupan manusia.

Selain itu, lontar jumrah juga mengajarkan pentingnya kekuatan dan keharmonisan dalam keluarga. Kisah keluarga Nabi Ibrahim menunjukkan bagaimana ayah, ibu, dan anak saling mendukung dalam menghadapi ujian berat.

Nilai ini menjadi pelajaran bahwa keluarga yang solid akan mampu menghadapi berbagai godaan dan cobaan hidup dengan lebih kuat. Semangat ini tercermin dalam setiap takbir dan doa yang diucapkan saat melontar jumrah.

Lebih jauh, lontar jumrah mengandung pesan tentang keikhlasan dan kesungguhan dalam melawan sifat-sifat buruk dalam diri.

Lemparan kerikil yang dilakukan berulang kali melambangkan usaha terus-menerus untuk menyingkirkan sifat-sifat negatif dan godaan setan.

Proses ini harus dilakukan dengan niat yang kuat, penuh kesadaran, dan tidak boleh setengah hati, agar benar-benar tepat sasaran dalam membersihkan diri dari keburukan.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas