Cara Melempar Jumrah Ula, Wusta, dan Aqabah dalam Ibadah Haji
Setiap jemaah haji wajib melontar jumrah setelah mabit di Muzdalifah dan Mina. Jika tidak melontar jumrah maka akan dikenai dam/denda/fidyah.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Nuryanti
Karena itu, penting bagi setiap jemaah memahami cara melempar Jumrah Ula, Wusta, dan Aqabah dengan benar agar ibadah haji dapat dilaksanakan secara tertib, aman, dan sesuai tuntunan syariat Islam.
Dari Mana Mendapatkan Kerikil untuk Melontar Jumrah?
Kerikil untuk melontar jamrah biasanya diperoleh jemaah haji saat berada di Muzdalifah setelah wukuf di Arafah. Pada masa dahulu, jemaah mengambil sendiri batu-batu kecil di area tanah lapang Muzdalifah, Arafah, atau Mina.
Namun saat ini sebagian besar kawasan di Makkah dan sekitarnya sudah dipaving dan diperkeras sehingga cukup sulit mencari kerikil secara langsung.
Karena itu, pemerintah dan panitia penyelenggara haji Arab Saudi telah menyiapkan kantong-kantong kerikil khusus untuk jemaah haji.
Kerikil tersebut biasanya dibagikan kepada jemaah saat di Arafah atau Muzdalifah. Setiap kantong telah disesuaikan dengan jumlah kebutuhan lontar jumrah, yaitu 49 butir bagi jemaah yang mengambil Nafar Awal dan 70 butir bagi Nafar Tsani.
Kerikil yang digunakan untuk melontar jumrah harus berupa batu kecil yang bersih dan suci, umumnya berukuran seperti kelereng kecil. Batu tidak boleh diambil dari area sekitar tempat jumrah (Jamarat).
Cara Melontar Jamrah
- Melontar kerikil mengenai marma dan masuk ke lubang
- Melontar setiap jamrah dengan 7 kerikil dan setiap kali lontaran satu kerikil. Jika melontar dengan 7 kerikil sekaligus maka dihitung satu lontaran.
- Jemaah menggunakan 7 kali lontaran kerikil pada setiap jamrah.
- Melontar jamrah dengan urutan mulai dari jamrah Sughra, Wustha, dan Kubra.
Ketika hendak melontar jamrah, jemaah haji dapat membaca doa melontar jumrah.
Mengutip buku Manasik Haji dan Umrah 2026 oleh Kementerian Haji dan Umrah, berikut doa ketika melontar jamrah.
Doa Ketika Melontar Jamrah
بِسْمِ اللهِ اللَّهُ أَكْبَر
Bismillāh, Allāhu akbar
Artinya: "Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar."
Doa Setelah Melontar Jamrah
الْحَمْدُ اللَّهِ كَثِيرًا طَيْبًا مُبَارَكًا فِيهِ اللَّهُمَّ لَا أُحْصِيِّ ثَنَاءَ
عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَفَضْتُ
وَمِنْ عَذَابِكَ أَشْفَقْتُ وَإِلَيْكَ رَ بْتُ وَمِنْكَ رَهِبْتُ
فَاقْبَلْ نُسُكِي وَأَعْظِمْ أَجْرِي وَارْحَمْ تَضَ عِي وَاقْبَلْ تَوْبَي
وَأَقِلَ عَتْرَنِي وَاسْتَجِبْ دَعْوَنِي وَأَعْطِنِي سُؤْلِي اللَّهِمَّ
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِمَّا وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُجْرِمِين،َ وَأَدْخِلْنَا فِي
عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Alḥamdu lillāhi katsīran ṭayyiban mubārakan fīh, Allāhumma lā uḥṣī tsanā’an ‘alayka anta kamā ats-nayta ‘alā nafsik. Allāhumma ilayka afaḍtu wa min ‘adzābika asyfaqt, wa ilayka raghibtu wa minka rahibtu. Faqbal nusukī wa a‘ẓim ajrī warḥam taḍarru‘ī waqbal taubatī wa aqil ‘athratī wastajib da‘watī wa a‘ṭinī su’lī. Allāhumma rabbanā taqabbal minnā wa lā taj‘alnā minal-mujrimīn, wa adkhilnā fī ‘ibādikaṣ-ṣāliḥīn yā arḥamar-rāḥimīn
Artinya: "Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak lagi baik dan membawa berkat di dalam-nya. Ya Allah, sekali-kali kami tidak mampu menghitung pujian untuk-Mu, sesuai pujian-Mu atas diri-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, dari siksa-Mu aku mohon belas kasihan, dan terhadap rahmat-Mu aku berharap dan atas azab-Mu aku takut. Terimalah ibadahku, perbesarlah pahalaku, sayangilah kerendahan hatiku, terimalah taubatku, perkecilah kekeliruanku, perkenankanlah permohonanku dan berikanlah permintaanku. Ya Allah kabul-kanlah doa kami, dan jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang berdosa, tetapi masukkanlah kami dalam hambaMu yang saleh wahai Tuhan Yang Paling Pengasih."
Hikmah Melontar Jumrah
Melontar jumrah bukan sekadar melempar batu kerikil dalam rangkaian ibadah haji, tetapi memiliki makna dan hikmah yang sangat dalam bagi kehidupan seorang Muslim. Ibadah ini menjadi simbol perlawanan terhadap godaan setan dan segala bentuk keburukan yang dapat menjauhkan manusia dari jalan Allah SWT.
Peristiwa ini mengingatkan kisah Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS yang tetap teguh menjalankan perintah Allah meskipun digoda oleh iblis agar membatalkan pengorbanan mereka.
Hikmah pertama dari melontar jumrah adalah mengajarkan umat Islam untuk selalu melawan godaan setan. Dalam kehidupan sehari-hari, setan tidak pernah berhenti menggoda manusia agar meninggalkan kebaikan dan melakukan maksiat. Karena itu, lontar jumrah menjadi lambang keteguhan iman dan keberanian seorang Muslim dalam menolak segala ajakan keburukan.