Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Images
LIVE ●

Menjadi Penulis Kreatif di Era Digital, Foto 1 #1936799 - TribunNews.com

Menjadi Penulis Kreatif di Era Digital

zoom-in Menjadi Penulis Kreatif di Era Digital

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo) bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyelenggarakan seminar online yakni Literasi Digital dengan mengusung tema: "Menjadi Penulis Kreatif Di Era Digital", diselenggarakan, Rabu (31/8/2022) di kemas melalui platform zoom meeting.      Narasumber berkompeten hadir dalam seminar Literasi Digital ini yaitu: Dr. Fadli Zon, M.Sc (Anggota Komisi I DPR RI), Semuel Abrijani Pangerapan, B.Sc (Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI) dan mengundang Tendi Murti (CEO KBM App).      Seminar Literasi Digital ini merupakan inisiasi yang di dukung oleh Kementerian Kominfo terhadap Program Literasi Digital yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, dengan memiliki beberapa tujuan, diantaranya yakni untuk mendorong masyarakat agar mengoptimalkan pemanfaatan internet sebagai sarana edukasi dan bisnis, memberdayakan masyarakat agar dapat memilah dan memilih informasi yang dibutuhkan dan bermanfaat, memberikan informasi yang lengkap kepada masyarakat terkait pembangunan Infrastruktur TIK yang dilakukan oleh Pemerintah khususnya oleh Ditjen APTIKA, serta mewujudkan jaringan informasi serta media komunikasi dua arah antara masyarakat dengan masyarakat maupun dengan pihak lainnya.     Pada sesi pertama sambutan Fadli Zon, menjelaskan bahwa, Pada tahun 2025 nanti 85 juta pekerjaan akan hilang, akan tetapi 97 juta pekerjaan baru akan muncul.     "Sebuah pekerjaan di dunia digital membutuhkan skill, tetapi Indonesia menduduki peringkat 47 dengan digital skill ranking. Maka dari itu pemerintah melalui Kominfo menetapkan 4 pilar literasi digital, yaitu digital skill, digital ethics, digital culture, dan digital safety. Dengan teknologi digital para penulis dapat meningkatkan dan mengembangkan aktivitas dan kreativitas lebih luas. Penulis di era digital harus lebih kreatif dan inovatif, bukan hanya bagian menulisnya saja akan tetapi cara tulisannya tersebut bisa dikonsumsi oleh masyarakat luas. Di era digital bertransformasi dari format print (media cetak) menjadi digital dan saat ini banyak menggunakan laman media sosial untuk menulis, penerbitan e-book, maupun website khusus, " jelas Fadli Zon dalam sambutannya.     Dilanjutakan Semuel Abrijani, menjelaskan bahwa, Sebagaimana yang telah diketahui bersama, dampak pandemi dan pesatnya teknologi telah mengubah cara kita beraktivitas dan bekerja.     "Kehadiran teknologi sebagai bagian dari kehidupan masyarakat inilah yang semakin mempertegaskan kita sedang menghadapi era disubsi teknologi. Untuk mengahadapi hal tersebut, kita semua harus mempercepat kerjasama kita dalam mewujudkan agenda trasnformasi digital Indonesia. Bersama-sama wujudkan cita-cita bangsa Indonesia dengan menjadikan masyarakat madani berbasis teknologi. Kemampuan yang kita miliki serta keunggulan yang terus dijaga akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang hebat dan besar, serta menjadi unggul dalam segi sumber daya manusia, " kata Semuel dalam paparannya.     Lalu pemaparan Tendi Murti, menjelaskan bahwa, Perbedaan antara penerbit buku dengan aplikasi membaca atau menulis adalah jika di penerbitan si penulis tidak bisa mengecek kalau tulisan atau bukunya akan banyak atau tidak yang baca. Sedangkan di aplikasi, penulis bisa mengecek apakah tulisannya banyak dibaca oleh berapa banyak orang dan respon dari pembaca.     "Hal ini menguntungkan bagi penulis untuk melanjutkan tulisannya atau tidak, selain itu merupakan pemanfaatan dunia digital saat ini. Apalagi dimasa pandemi saat ini memperlancar penerbit dan penulis yang akhirnya beralih ke ruang digital untuk mempublikasikan tulisannya. Saat ini pula penulis merangkap untuk memasarkan tulisan atau bukunya untuk dikonsumsi oleh masyarakat, sebelumnya penulis hanya memberikan tulisannya pada penerbit lalu dipasarkan di toko buku, " jelas Tendi Murti.    Tendi Murti juga menjelaskan, "Kemudahan-kemudahan dunia digital tidak hanya dirasakan oleh  penulis, tetapi oleh pembaca bisa menyebarkan tulisan atau buku dengan mudah hanya dengan share link ataupun google drive. Hal tersebut juga menguntungkan penulis atau penerbit juga dalam mempromosikan tulisannya tanpa memasarkan dengan giat. Hanya diperlukan tulisan yang lebih kreatif dan inovatif serta melihat minat dari pembaca supaya menghasilkan karya yang tidak hanya bagus tetapi bisa dibagikan ke pembaca tanpa harus mempromosikan. Disrupsi adalah  kondisi dimana terjadinya inovasi yang menyebabkan perubahan secara besar-besaran atau mendasar kedalam sistem yang baru. Membahas disrupsi dimana banyak para penulis yang belum bisa mengikuti perubahan digital saat ini, karena mereka hanya fokus pada inovasi tapi lupa untuk adaptasi. Sebagai penulis bisa melihat peluang dari pengguna internet dengan 205 juta pengguna, bahkan mengakses internet masuk kedalam 5 besar di dunia, dari peluang tersebut adalah alasan penulis harus beradaptasi ke digital. Dikarenakan penulis bisa text the water, penulis dan pembaca bisa berinteraksi langsung, bisa mengambil inspirasi dari pembaca, bisa memperkirakan penghasilan, tidak keluar banyak biaya untuk menerbitkan buku, dan masih banyak lainnya. Selain manfaatnya yang banyak, buku digital memiliki kelemahan, yaitu mudah diplagiat, tidak dapat dipegang, butuh platform untuk membacanya, tidak ada kepuasan kepemilikan buku".     "Kelebihan dari buku digital adalah cepat terbit, royalti besar dan bisa diambil kapan saja, distribusi fleksibel, persaingan masih kecil, harga lebih stabil, sistem penjualan variatif, sistem bagi hasil, mudah diakses, lebih murah, ramah lingkungan, dan masih banyak lagi. Tips untuk pembaca dalam memilih platform adalah mudah digunakan, aman untuk tulisan, sesuai dengan visi, mudah dalam pencairan royaltinya, platform yang memberi edukasi kepada penulis maupun pembaca".     Dengan adanya acara ini diharapkan masyarakat dapat melakukan literasi digital sebagai dukungan kepada pemerintah mewujudkan transformasi digital Indonesia. //xis

Editor
Byline/Fotografer
TRIBUNNEWS.COM/IST/FX ISMANTO
Byline Title
STF
Credit
TRIBUNNEWS.COM
Source
TRIBUNNEWS.COM
City
Jakarta
Province
DKI Jakarta
Country
INDONESIA
Copyright
TRIBUNNEWS.COM
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas