Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

FBI Bongkar Jaringan ISIS di Inggris dan Ungkap Algojo Pemenggal Jurnalis AS

Seperti diketahui tim dari FBI telah terbang ke Inggris bulan lalu untuk membongkar jaringan ISIS terkait algojo yang memenggal kepala dua jurnalis

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Yudie Thirzano
zoom-in FBI Bongkar Jaringan ISIS di Inggris dan Ungkap Algojo Pemenggal Jurnalis AS
Dailymail
Polisi Inggris dan FBI AS bekerja sama membongkar jaringan Islamic State di Inggris 

TRIBUNNEWS.COM, LONDON - Teka-teki di balik aksi penggal kepala dua jurnalis AS oleh eksekutor ISIS atau Islamic State (IS) segera terbuka di Inggris. Sumber rahasia Miror menyebutkan bahwa polisi Inggris dalam waktu dekat bakal meringkus belasan rekan kerja algojo ISIS berjuluk John yang diduga sebagai 1 dari empat warga Inggris.

Media-media Inggris menyebut kuartet esekutor yang mengancam akan membunuh para sandera sebagai The Beatles (merujuk nama grup legendaris Inggris). Selain membunuh jurnalis AS, John juga diduga telah menebar ancaman untuk membunuh pekerja/relawan Inggris yang disandera di Suriah.

Adapun 12 orang yang dianggap sebagai jaringan ISIS di Inggris diduga berperan sebagai penyedia dana, jaringan penghubung hingga membantu para eksekutor untuk melintasi negeri masuk Suriah. Sebuah sumber AS mengatakan temuan ini merupakan hasil kerja sama Inggris - AS.

Seperti diketahui tim dari FBI telah terbang ke Inggris bulan lalu untuk membongkar jaringan ISIS terkait algojo yang memenggal kepala dua jurnalis AS. "Ini upaya terkoordinasi untuk melacak jaringan dan dukungan algojo ISIS dari Inggris. Penyelidikan kami telah memberi kami petunjuk di seluruh negeri. Kami 99,9 persen yakin sekarang siapa 'John' tetapi penyelidikan harus melangkah hati-hati dan mendekati jaringannya lebih luas di Inggris," kata sumber itu dikutip Miror.

Dalam tayangan video yang beredar beberapa waktu lalu, dua jurnalis asal AS James Foley dan Steven Sotloff dieksekusi mati oleh kelompok yang mengatasnamakan tentara Islamic State (IS). Dalam video yang diposting, Selasa (2/9/2014), Sotloff mengatakan bahwa ia "sedang membayar harga" atas intervensi militer AS.

Rekomendasi Untuk Anda
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas