Merevolusi ojek di kota-kota besar di Indonesia
Layanan transportasi informal ojek di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia telah disulap menjadi transportasi canggih berbasis telepon seluler pintar.
Jakarta, Jumat sore. Dari kantornya di bilangan Bundaran Hotel Indonesia, Jana Hauser hendak mencapai Bandara Soekarno-Hatta dalam waktu kurang dari satu jam.
Niat ekspatriat asal Jerman itu tampak mustahil mengingat jarak 30 kilometer yang memisahkan kedua lokasi tersebut dipenuhi kemacetan.
Namun, seorang rekan kerja Jana menyarankan agar dia mengunduh aplikasi GoJek pada telepon selulernya. Jana pun menurut dan dia memesan layanan GoJek ke Bandara Soekarno-Hatta. Dalam hitungan menit, seorang pengendara GoJek muncul dan mengantarkan perempuan berusia 24 tahun itu tiba di bandara tepat waktu.
“Saya sangat puas dan sejak saat itu menjadi pelanggan GoJek,” kata Jana dalam bahasa Indonesia yang fasih.
Model Komisi
Pendiri aplikasi GoJek ialah Nadiem Makarim. Menurutnya, sejak diluncurkan Januari 2015 lalu, aplikasi itu telah diunduh sebanyak lebih dari 500.000 kali. Dia mengklaim bahwa tiada aplikasi di Indonesia yang diunduh sebanyak itu dalam kurun enam bulan.
Transportasi ojek sebenarnya telah dikenal di Jakarta dan daerah lain di Indonesia sejak bertahun-tahun lalu. Namun, GoJek adalah aplikasi pertama yang mengenalkan layanan pemesanan ojek menggunakan teknologi dan memakai standar pelayanan.
Pelanggan bisa mengetahui tarif GoJek melalui aplikasi ponsel.
Sebelumnya, ojek memakai sistem pangkalan berbasis wilayah di tikungan dan mulut-mulut gang. Pengendara ojek dari wilayah lain tidak bisa sembarangan ‘mangkal’ di suatu wilayah tanpa ijin dari pengendara ojek di wilayah tersebut. Untuk menggunakan jasa ojek pun, pemakai jasa harus membayar kontan dan tak jarang disertai tawar-menawar.
Kehadiran GoJek mengubah sistem tersebut. Oleh GoJek, pengendara ojek direkrut dan dilatih, diberikan jaket, helm, dan telepon seluler pintar sehingga bisa menghitung harga berdasarkan jarak sekaligus melihat pemesanan.
GoJek kini bermitra dengan lebih dari 10.000 pengendara ojek di Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Provinsi Bali.
Melalui kemitraan itu, GoJek mengambil 20% komisi dari setiap perjalanan yang ditempuh pengendara mitranya.
Langganan
Setelah mengenyam pendidikan sekolah dasar di Jakarta, Nadiem menempuh pendidikan sekolah menengah di Singapura dan New York, Amerika Serikat. Dia menduduki bangku kuliah di Universitas Brown, AS, untuk menekuni studi hubungan internasional.
Beberapa tahun kemudian, dia mengambil gelar mgister administrasi bisnis di Universitas Harvard, AS.
Kembali ke Jakarta dan bekerja untuk sebuah firma konsultan, Nadiem mengaku menjadi pelanggan ojek setia sebab tidak tahan dengan kemacetan Jakarta. Dirinya tidak segan meninggalkan kenyamanan penyejuk udara di dalam mobil dan berpindah ke jok motor ojek demi mengejar waktu.
“Bagi saya, hal paling berharga selain uang adalah waktu. Anda tidak bisa mengembalikan waktu,” ujarnya.