Merevolusi ojek di kota-kota besar di Indonesia
Layanan transportasi informal ojek di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia telah disulap menjadi transportasi canggih berbasis telepon seluler pintar.
“Saya tanya kepada dia, ‘Berapa lama kamu bekerja?’ Tukang ojek itu bilang dia bekerja sehari-hari 14 jam. Saya lalu tanya berapa banyak pesanan yang dia ambil dalam sehari. Dia menjawab, empat atau lima. Jadi, artinya, sebanyak 70%-75% waktu kerjanya, dia tidak ngapa-ngapain. Dia duduk di pangkalannya aja menunggu pelanggan,” kata Nadiem.
Perbincangan itu membuat Nadiem sadar bahwa ada masalah permintaan dan pasokan. Dia lalu terpikir untuk menciptakan teknologi yang bisa menyambungkan antara pelanggan ojek dengan pengendara ojek dan begitu pula sebaliknya.
Di sisi lain, Nadiem juga memutuskan bahwa pelanggan ingin mendapatkan pengendara yang terpercaya dan bertanggung-jawab.
Karena itu, pada aplikasi GoJek, pelanggan bisa melihat tarif dengan jelas sesuai dengan jarak yang ditempuh layaknya taksi. Di luar promosi, pelanggan membayar Rp4.000 per kilometer.
Kemudian, agar pengendara ojek bisa memanfaatkan waktunya seoptimal mungkin tanpa menganggur, Nadiem memperlebar layanan ke jasa antar makanan dan antar dokumen alias kurir.
“Dengan cara ini, pengendara bisa memperoleh uang tidak hanya pada jam-jam sibuk,” ujarnya.
Persaingan
Kehadiran GoJek yang mengubah sistem ojek tidak bisa diterima semua pengendara ojek pangkalan.
Amin, salah seorang pengendara ojek di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, keberatan dengan cara GoJek merambah berbagai layanan dengan tarif rendah dan tidak memiliki sistem pangkalan.
“Rugi dong kami yang jadi ojek di pangkalan. Mereka seenaknya ke sana ke ke mari gak pakai pangkalan. Persaingan sudah ketat sesama tukang ojek, lalu ada GoJek yang antar makanan dan jadi kurir,” katanya.
Keluhan tersebut dipahami Nosa Normanda, dosen antropologi dan sosiologi di Departemen Film dan Komunikasi Binus International.
Menurutnya, konflik antara GoJek dan ojek konvensional akan ada karena GoJek mewakili budaya korporat dengan simbol-simbol dan aturan-aturan profesional dalam konteks korporat pula. Sementara ojek pangkalan ialah paguyuban yang tersebar di mana-mana dan berbeda satu sama lain.
”Nah, pendekatannya tidak bisa disamakan antara GoJek yang korporat dengan ojek pangkalan yang terbatas pada kuasa sosial-politik lokalnya. Solusi satu-satunya adalah membuka komunikasi dengan warga lokal tersebut, yang merasa lahan lokalnya diinterupsi. Yang terjadi adalah prasangka dan ketakutan--ini selalu berakhir dalam tindakan ofensif yang agresif,”paparnya.
Mengomentari persaingan antara GoJek dan ojek konvensional, Nadiem mengakui bahwa akan selalu ada perlawanan dari ojek pangkalan. Namun, menurutnya, kondisinya akan membaik.
”Karena orang akan sadar bahwa GoJek adalah harapan bukan kompetitor untuk ojek pangkalan. Mereka tidak akan survive dengan hanya ngojek di pangkalan karena kompetisinya sudah begitu besar dan mereka nunggu saja di pangkalan,” ujarnya.
Untuk mendirikan Gojek, Nadiem mengaku harus mengundurkan diri sebagai karyawan perusahaan.
Baca tanpa iklan