Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribun
LIVE ●
tag populer

Mengenal Daeng Matutu, Pendiri Galeri Maritim di Darwin Australia

Galeri maritim pada Museum dan Galeri Seni Northern Territory Australia dibangun oleh Dr Colin Jack-Hinton.

Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Mengenal Daeng Matutu, Pendiri Galeri Maritim di Darwin Australia
Foto: Istimewa/Charles Darwin University/ABC
Darwin Institute of Technology Art Acquisition Exhibition 1985, (Dari kiri) Colin Jack-Hinton, Nancy Giese, Kevin Davis, Claire Robertson, Dennis Schapel. 

TRIBUNNEWS.COM, AUSTRALIA - Galeri maritim pada Museum dan Galeri Seni Northern Territory Australia dibangun oleh Dr Colin Jack-Hinton.

Kedekatannya dengan Makassar membuatnya mendapat "pa'daengang" alias gelar adat Daeng Matutu - Yang Teliti.

ABC pernah menurunkan laporan mengenai sosok Daeng Matutu pada 6 Juli 2006 silam. Saat itu, wartawan ABC Murray McLaughlin meliput kegiatan mengenang kepergian Colin Jack-Hinton, empat bulan sebelumnya di Selandia Baru dalam usia 73 tahun.

Pendiri Museum Maritim ini dikenal luas di Kota Darwin sebagai sosok dengan karakter kuat dan penuh warna.

Daeng Matutu digambarkan sebagai sosok yang sekali ketemu, sulit untuk dilupakan. Ia memelihara janggut panjang, orangnya akrab, dan suka menyapa penuh kehangatan.

Jack-Hinton menjadi direktur Museum and Art Gallery sejak 1970, dan salah seorang yang belakangan menjadi kenalannya Ian Barker tiba di kota itu pada tahun yang sama.

Rekomendasi Untuk Anda

Kepada ABC, Ian Barker yang berprofesi sebagai pengacara, mengenang Jack-Hinton sebagai sahabat setia yang mungkin bagi sebagian orang terlihat eksentrik.

Ian Barker mengenang bagaimana Jack-Hinton memulai museum ini dengan segala keterbatasannya. Tadinya Museum Darwin berlokasi di Old Town Hall namun gedung itu hancur diterjang badai angin topan.

"Dia begitu frustrasi mengenai kurangnya dana hingga pernah dia ambil palu beton dan membantingnya di lantai semen di luar museum. Sejak itu dia sempat dijuluki Colin Jackhammer," tutur Barker.

Museum and Art Gallery yang berada Bullocky Point resmi dibuka tahun 1981, tiga tahun setelah Northern Territory menjadi negara bagian dengan pemerintahan sendiri. Saat itu pemerintahan NT dipimpin Paul Everingham.

Kepada ABC, Paul Everingham mengatakan, pemerintahannya memutuskan untuk mendahulukan bagunan museum sebelum melaksanakan proyek pembangunan lainnya seperti jalan, sekolah, jembatan dan lainnya.

"Saya harus akui bahwa hal ini sebagian besar karena peran Colin," katanya.

Everingham mengenang Jack-Hinton sebagai sosok eksentrik yang tidak suka formalitas dan basa-basi. "Colin orangnya sangat kreatif," katanya.

Menurut Barker, Jack-Hinton tidak jarang terlibat konflik dengan kalangan birokrasi di Northern Territory. Dan hal itu semakin memuncak di awal tahun 1990an.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas