Tribun

Orang Barat Jadi Target Serangan di Hotel Radisson Blu

Perancis tampaknya menjadi target utama dari serangan teroris di Mali, Jumat (20/11/2015).

Editor: Gusti Sawabi

Tribunnews.com, Bamako - Perancis tampaknya menjadi target utama dari serangan teroris di Mali, Jumat (20/11/2015). Hari itu, orang-orang bersenjata menyerbu sebuah hotel yang penuh dengan pengunjung warga Barat di ibukota Bamako. Serangan itu menewaskan sekitar 27 orang.

Serangan di Hotel Radisson Blu di Bamako itu dimulai pukul 07.00 ketika 170 tamu ada di dalam hotel. Pasukan Komando Perancis dikerahkan untuk membantu pasukan keamanan lokal mengaman hotel, lantai demi lantai, selama 12 jam pengepungan.

Dua kelompok cabang Al Qaeda mengaku bertanggung jawab dan bukti menunjukkan bahwa Perancis merupakan target utama.

Pada 1 November, Iyad Ag Ghaly, pemimpin Al Qaeda di Mali, mengancam akan membunuh "tentara Perancis" di negara itu sebagai pembalasan atas "kasus Charlie Hebdo dan kartun satirenya yang ofensif terhadap Nabi".

Perancis, bekas penjajah Mali, mengirim 4.000 tentara ke Mali tahun 2013 untuk membebaskan tiga wilayah di Mali utara dari kendali Al Qaeda. Saat ini, Perancis masih memiliki 1.450 personil militer di negeri itu dan warganya merupakan kelompok terbesar ekspatriat Barat di Bamako.

Para penyerang tiba di Radisson Hotel dalam sebuah mobil berplat diplomatik. Seorang saksi mata, yang menyebut namanya sebagai Salim, mengatakan kepada Daily Telegraph bahwa tiga orang bersenjata menembakkan senjata mereka dan menewaskan dua penjaga keamanan hotel. Sejumlah penjaga lainnya langsung kabur.

"Saya melihat bahwa ada kekacauan di sana. Beberapa orang datang dengan sebuah mobil diplomatik," kata Salim. "Ketika mereka tiba, pihak keamanan hotel melarikan diri dan orang-orang itu punya waktu untuk mencapai hotel dengan senjata mereka."

Salim dalam perjalanan untuk melakukan beberapa pekerjaan bangunan di hotel itu ketika insiden dimulai. Setelah melihat para penyerang memaksa masuk ke Radisson, ia melarikan diri ke rumahnya yang hanya beberapa ratus meter jaraknya dari situ.

Dia menggambarkan bagaimana pasukan keamanan dengan cepat mengelilingi hotel, termasuk pasukan dari tentara Perancis dan petugas paramiliter Gendarmerie Mali.

Pemerintah Perancis memastikan bahwa sebuah unit pasukan khusus dikirim ke Mali dari basisnya di negara tetangga Burkina Faso.

"Dalam menanggapi permintaan pemerintah Mali, Menteri Pertahanan telah memutuskan untuk mengirim sebuah unit pasukan khusus," kata sebuah pernyataan kementerian pertahanan Perancis. "Unit itu telah diminta untuk membantu pasukan keamanan Mali terkait situasi penyanderaan di Hotel Radisson Bamako yang sedang berlangsung."

Di dalam hotel, orang-orang bersenjata bergerak dari lantai ke lantai sementara para tamu melarikan diri dengan panik.

Warga Amerika termasuk di antara para tamu di hotel itu dan AS membenarkan bahwa pasukannya telah dikerahkan. Kolonel Mark Cheadle, juru bicara Komando Afrika AS, mengatakan bahwa personel militer Amerika "telah membantu memindahkan warga sipil ke lokasi aman, saat pasukan Mali bekerja menyingkirkan orang-orang bersenjata dari hotel."

Pasukan Mali dan sekutu Perancis mereka mengambil keputusan cepat untuk memasuki hotel ketimbang terjadi pembantaian.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas