Menyelamatkan kota tua Jakarta dari kehancuran
Sebuah pendekatan baru dilakukan dalam upaya menyelamatkan kawasan kota tua di Jakarta dari kehancuran. Seperti apa mekanismenya?
"Bagaimana membuat model kerja sama bisnisnya. Jadi gedung-gedung itu kita restorasi, itu kerjasama dengan mereka (menyewa gedungnya) dalam jangka waktu 20 tahun," papar Yayat Suyatna, Project manager JOTRC kepada BBC Indonesia.
Setelah direnovasi, mau diapakan?
Ketika mengelilingi sudut lain kawasan kota tua, mata saya tertumbuk pada sebuah gedung kuno dua lantai yang sepertinya baru saja direnovasi. Cantik sekali, gumam saya.
Dan, hati saya seperti berbunga-bunga, karena gedung bercat putih itu telah disulap menjadi sebuah kafe yang khusus menjual kopi. Padahal, saya masih ingat, dulunya bangunan itu tidak terawat.
Saya pun penasaran! Beruntung, saya dapat bertemu pemiliknya ketika saya masuk ke dalam gedung tersebut. Namanya Heri Setiadi, pemilik Aroma Nusantara– nama warung kopi itu.
"Inilah yang saya impikan," kata Heri Setiadi saat pertama kali ditunjukkan bangunan yang dulu milik perusahaan Rotterdam Llyod.
Akhir tahun lalu, JOTRC menghubunginya dan menawarkan gedung tersebut agar 'difungsikan'. Heri langsung mengiyakan. "Sangat sesuai dengan apa yang saya impikan yaitu coffee shop dan museum kopi," ujarnya dengan mata berbinar.
Walaupun siang itu kafe itu terlihat lengang, namun menurutnya tetap 'menjanjikan' karena terletak di jalan raya (jalan Kunir) dan "bus-bus turis biasanya berhenti di depan."
Harus dapat dimanfaatkan
Tetapi apa yang membuat Anda yakin bakal meraup keuntungan dengan membuka usaha restoran di kawasan kota tua? Tanya saya.
"Ini peluang, karena kalau (kota tua) sudah ramai, kita enggak bisa masuk. Kalau sudah bagus, kita enggak bisa masuk sini," Heri berkata sambil terkekeh.
Dia meyakini program revitalisasi kota tua -yang dilakukan JOTRC-telah membuahkan hasil. "Saya melihat langsung adanya perubahan."
Bagaimanapun, keberadaan warung kopi milik Heri itu sesuai impian orang-orang yang tergabung dalam JOTRC yaitu menghidupkan kegiatan yang ada di dalam bangunan tua (hasil renovasi).
"Sehingga kehidupan ekonomi dapat membantu kelangsungan bangunan," demikian keterangan JOTRC dalam situs resminya.
Yayat Suyatna, project manager JOTRC, mengatakan pihaknya tidak menginginkan masyarakat hanya dapat melihat gedung itu telah direnovasi.
"Tapi gedung-gedung itu harus dapat dimanfaatkan, seperti di Belanda yang bisa digunakan sebagai acara konferensi atau pertunjukan. Intinya dapat menunjang turisme," jelasnya.