Kisah Mahasiswi Australia Lolos dari Serangan Maut Teroris di Brussels
Keputusan remeh temeh membuatnya terselamatkan dari serangan teroris, Selasa (22/3/2016).
Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Adi Suhendi
"Kami benar-benar tak mendengar apapun, tak mencium bau asap apapun," kenang Eliza.
Ia mulai merasakan ada hal aneh baru saja terjadi ketika melihat anggota staf bandara menjawab panggilan telepon dan menangis.
"Kami kemudian melihat sekelompok 10 orang berlari melalui terminal. Sesuatu yang tidak benar terjadi,” tuturnya.
"Setelah itu, ada panggilan untuk evakuasi dari sistem pengeras suara," kisahnya.
"Kemudian ada pengumuman kedua untuk tetap tinggal di tempat," lanjutnya.
"Dan akhirnya pengumuman ketiga terdengar seorang perempuan dengan histeris mengatakan 'keluar sekarang'," demikian dia menceritakan situasi yang terjadi.
Ketika Eliza dan teman-temannya beranjak menuruti arahan dari pengeras suara mengevakuasi diri.
Saat mereka melewati petugas kebersihan bandara, barulah mereka diberitahu, "ada teroris".
Tak sampai di ujung luar bandara, suasana mencekam kejadian ledakan itu terpampang jelas.
"Kami bisa melihat kaca di seluruh sisi bandara sudah pecah," cerita Eliza.
"Kami berdiri di luar selama 2,5 jam dan selama itu kami melihat ambulans demi ambulans tiba di bandara silih berganti. Setidaknya ada 30 ambulans,” kenang Eliza.
"Lalu seluruh tentara Belgia turun ke bandara," sambungnya.
Ribuan orang yang dievakuasi akhirnya naik bus ke gedung olah raga terdekat.
Mereka dievakuasi ke tempat yang kondisinya aman, diberi kopi, dan makanan, bahkan wafel Belgia.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.