Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
BBC

Kisah pesunat perempuan di Afrika

Memunatu yang berprofesi sebagai pesunat anak perempuan di Afrika sangat bangga, "Ini adalah tradisi kuno dan hebat," ujarnya bersikeras.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan

Lebih dari 200 juta wanita dan anak perempuan yang masih hidup telah menjalani sunat perempuan. Praktik ini sudah dilarang di beberapa negara di Afrika, tapi tidak di Sierra Leone, di mana para pesunat masih bangga dengan profesi mereka.

"Saya sudah menyunat ratusan anak perempuan," kata Memunatu Turay dengan bangga. "Tapi saya tidak bisa memberi tahu Anda persisnya bagaimana saya menjalankan tradisi kuno ini, kecuali kalau Anda bergabung dalam komunitas rahasia kami."

Senyuman lebar tersungging di wajahnya saat dia melihat raut wajah ketakutan saya. "Ayo ikut saya," katanya. "Saya bisa menyunat Anda dan dengan begitu saya bisa memberi tahu Anda apa yang ingin Anda ketahui."

Memunatu dengan jelas menikmati percakapan kami, dan akhirnya dia tertawa terbahak-bahak. Dengan sopan saya menolak tawarannya.

Kami duduk di rumahnya di daerah kumuh di Freetown bagian barat. Sebuah foto putrinya yang mengenakan toga tergantung di tempat yang dibanggakan di dinding berwarna kuning cerah.

"Dia sudah disunat dan lihatlah, dia baik-baik saja, dia mendapatkan pendidikan layak," kata Memunatu, dengan wajahnya berseri-seri.

Perempuan berusia 56 tahun ini menunjukkan sifat hangat dan galak bersamaan. Dia membanggakan diri dengan mengatakan dirinya adalah salah satu dari pesunat yang paling terpercaya dan memiliki banyak pasien -atau soweis seperti apa yang mereka sebut di Sierra Leone- di seluruh Freetown.

Rekomendasi Untuk Anda

"Ini adalah tradisi kuno dan hebat," ujarnya bersikeras.

"Kami tidak menyakiti anak-anak perempuan, saya tidak akan pernah menyakiti mereka. Dan ini bukan cuma tentang sunat saja. Kami mengajari mereka bagaimana menjadi istri, memasak, dan bersih-bersih," jelasnya.

"Kami ada pesta-pesta besar untuk inisiasi tersebut, di mana kami menari dan menyanyi, dan bersenang-senang."

Pikiran saya kembali pada bulan Juli saat saya di Kenya sedang menginvestigasi upaya penghentian sunat perempuan di sana. Praktik tersebut dilarang di negara tersebut pada 2011. Pengalaman saya di sebuah desa di sana adalah sesuatu yang melekat di benak saya.

Afrika, sunat perempuan

Perempuan-perempuan komunitas Pokot di Kenya yang meloloskan diri dari sunat perempuan dan dari pernikahan paksa sedang berpawai pada upacara kelulusan mereka setelah menyelesaikan pelatihan kewirausahaan sosial serta teknologi informasi dan teknologi.

Satu mantan pesunat menyetujui untuk mendemostrasikan apa yang dulu dia lakukan pada anak-anak perempuan.

Temannya memegang erat pergelangan-pergelangan tangan saya, lalu menyilangkannya dengan rapat di dada saya, dan menarik saya ke lantai di luar pondoknya.

Saya duduk dengan kaki-kaki saya berada di antara kedua kakinya yang kuat waktu dia merapatkannya di sekitar pinggul saya, membuat saya susah untuk bergerak.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/3
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas