Cinta Indonesia Bersemi di Saint Petersburg
Sejauh mata memandang, Kota Saint (St) Petersburg, di Rusia, seakan memanjakan mata
Penulis:
Rachmat Hidayat
TRIBUNNEWS.COM,ST PETERSBURG-Sejauh mata memandang, Kota Saint (St) Petersburg, di Rusia, seakan memanjakan mata akan keindahan tata kotanya yang memiliki nilai seni tinggi.
Gedung-gedung sisa-sisa peninggalan jaman dulu, dirawat dengan begitu baik, juga sungai yang seakan membelah kota ini.
Kota ini juga dikenal sebagai kota pelabuhan yang terletak di tepi Sungai Neva dan Teluk Finskiy. Maklum saja, pusat kotanya adalah salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Secara keseluruhan, Rusia, memiliki puluhan situs yang menjadi warisan dunia.
St Peterburg, dulu, terkenal dengan nama Petrogard dari tahun 1914 sampai 1924 dan terkenal dengan Leningrad dari tahun 1924 sampai 1991.
Ada 221 museum, 2000 perpustakaan, lebih dari 80 teater, 100 kelompok konser, 45 galeri,62 sinema dan puluhan klub budya di Saint Petersburg. Hermitage adalah musium terbesar yang ada di kota ini. Ada tiga juta karya seni dari zaman batu hingga zaman moderen di musium tersebut.
Jejak Indonesia sangat mudah didapati di Kota ini. Hal ini yang membuat kecintaan warga setempat dengan Indonesia. Diawali oleh Presiden Pertama Indonesia, Soekarno.
Pada 3 Februari 1950 hubungan Indonesia dengan Ruisa terjalin secara diplomatik. Dan pada tahun 1954 kedua negara saling membuka kedutaan besar, baik di Moscow dan Jakarta.
Tahun 1956, tepatnya pada 28 Agustus saat itu, Presiden Soekarno datang ke Rusia -dulu bernama Uni Soviet-atas undangan Presidium tertinggi Soviet.
Presiden Kedua, Soeharto juga pernah mengunjungi Uni Soviet, melakukan kunjungan kenegaraan. Hubungan terus berlanjut secara diplomatik, dilanjutkan dengan presiden selanjutnya hingga sekarang.
Jejak Indonesia seakan sangat mudah dilihat, ditandai dengan Blue Mosque atau mesjid Biru. Mesjid ini juga dikenal dengan Mesjid Soekarno. Saksi bisu, yang menjadi bukti pengaruh Presiden pertama Indonesia saat itu. Masjid ini berada di pusat kota, didominasi warna biru, bernama asli Jamul Muslimin.
Di tahun 1950-an masjid ini pernah dijadikan gudang oleh pemerintah Rusia yang kala itu masih berada di era kepemimpinan komunis. Di tahun 1956, Soekarno saat datang bersama putrinya Megawati Soekarnoputri, kemudian singgah ke Kota St Petersburg.
Singkat cerita, melihat kondisi mesjid saat itu, Soekarno kemudian meminta pemerintah Rusia untuk mengembalikan fungsinya semula, sebagai tempat ibadah bagi kaum muslim di sana.
Kini, Mesjid Biru seakan menjadi kecintaan ummat muslim setempat dan begitu bangga atas jasa Soekarno. Hingga kini, hubungan baik Indonesia dengan Rusia tetap terjaga.
Hubungan yang terjalin dari berbagai bidang, termasuk pendidikan. Ada ratusan mahasiswa asal Indonesia mendapat beasiswa dari pemerintah Rusia.
Diantaranya, salah satu mahasiswa yang beruntung adalah M Jismin. Anak muda ini, adalah salah satu dari 58 anak asal Kalimantan Timur yang beruntung bisa menuntut ilmu sampai ke Rusia.
Baca tanpa iklan