Cinta Indonesia Bersemi di Saint Petersburg
Sejauh mata memandang, Kota Saint (St) Petersburg, di Rusia, seakan memanjakan mata
Penulis:
Rachmat Hidayat
"Kami mendapat beasiswa, belajar mengenai per-kereataapian. Kerjasama antara Pemprov Kaltim dengan Russian Railway (perusahaan Kereta Api) Pemerintah Rusia," ujarnya saat ditemui usai melaksanakan salat berjamaah di Blue Mosque.
Jismin mengaku tempat tinggalnya dekat dengan Blue Moesque dan baru tiga bulan tinggal di St Petersburg. Kota yang indah ini, juga dirasakan oleh mahasiswa lainnya asal Indonesia, Taufiq Maulana, asal Jakarta. Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) ini juga beruntung mendapatkan beasiswa dari pemerintah Rusia untuk melanjutkan studi S2 jurusan Biologi.
Kebetulan, Taufik juga mendapatkan pelabuhan cintanya di kota ini. Ia menikah dengan wanita pujaan hatinya, Natalia Valentinovna yang kini bernama Aisiah. Aisah yang sudah memberikan satu putri kepada Taufiq.
"Alhamdulillah kami sudah dikarunia satu anak. Insyaallah, saya akan membawa istri, pulang ke Jakarta," ungkap Taufik semringah saat ditemui.
Jejak kecintaan Rusia terhadap Indonesia di Kota ini, juga terdapat di Universitas Saint Petersburg. Disana, ada Profesor Oglobin, ilmuwan Indonesia ternama di kota ini.
Banyak kalangan termasuk sejarawan Rusia, Fadli Zon menyebutnya sebagia 'seorang Indonesia'. Fasih berbahasa Indonesia, dan setiap hari mengabdikan dirinya untuk memberikan pengetahuan akan kebudayaan Indonesia, meski kini ia sudah makin sepuh.
Tak sedikit anak muda di Saint Petersburg yang tertarik belajar tentang Indonesia. Terdapat Pusat Nusantara yang ada di lantai tiga di kampus yang terletak di pusat kota ini.
Mahasiswa Rusia yang cinta Indonesia, mendalami berbagai kebudayaan, termasuk sastra jawa, serta seni dan budaya lain yang ada di Indonesia. Dan tak heran, mahasiswanya sangat fasih berbahasa Indonesia.
Kemlu juga mengungkap, tak hanya di Universitas Saint Petersburg saja, di beberapa universitas di Rusia juga mencantumkan mata kuliah Indonesia.
Antara lain, di Institute of Asian-African Studies (ISAA) of the Moscow State University (MGU), Oriental University of the Russian Academy of Sciences, Moscow State University of International Relations (MGIMO) of the Ministry of Foreign Affairs of the Russian Federation.
Kemudian Akademi DIplomatik Kementerian Luar Negeri Federasi Rusia dan Far Eastern National University (DVGU) Vladivostok.
Tercatat, pada akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an tercatat, ada 2000 mahasiswa Indonesia belajar di berbagai wilayah Uni Soviet saat itu melalui program beasiswa dari Pemerintah Uni Soviet.
Kesempatan belajar di sana menjadi fenomena di kalangan mahasiswa Indonesia pada saat itu, mengingat dekatnya hubungan kedua negara dan berlanjut hingga saat ini.
Baca tanpa iklan