Polisi Jepang Punya Database Perlu Dianalisis Dengan Medsos Hindari Pembunuhan
Profesor Sawa yang mengenal baik masalah investigasi kepolisian menekankan perlunya polisi menganalisa database yang dimiliki saat ini.
Editor: Johnson Simanjuntak
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Pembunuhan terhadap 9 warga Jepang yang dilatarbelakangi ajakan bunuh diri pada medsos Jepang, dilakukan oleh Takahiro Shiraishi (27) sebenarnya tak perlu terjadi bila polisi bisa mengolah dengan baik database yang ada dikaitkan dan dianalisa dengan medsos saat ini.
"Kejadian tersebut sebenarnya tak perlu terjadi karena sang pelaku sebenarnya sebelumnya pernah masuk catatan polisi," papar Hidemichi Sawa, profesor Universitas Tokiwadai di Ibaraki Jepang hari ini (20/11/2017).
Profesor Sawa yang mengenal baik masalah investigasi kepolisian menekankan perlunya polisi menganalisa database yang dimiliki saat ini.
"Saya rasa polisi tidak menggunakannya dengan baik database orang hilang tersebut serta berbagai kaitan hal sehngga berbagai kejadian akhirnya muncul karena tindakan preventif kurang berjalan baik," tambahnya.
Dengan kejadian pembunuhan 9 orang ini sebenarnya polisi harus bisa lebih aktif dan lebih sensitif lagi dalam menanggulangi persoalan kemasyarakatan saat ini.
"Sebelum masalah serius muncul di masyarakat sebenarnya polisi bisa menganalisa database yang ada dengan informasi yang ada di medsos mengenai berbagai hal baik orang hilang, masalah keluarga, keinginan bunuh diri dan sebagainya."
Dengan analisa yang baik dan pengaitan hal tersebut melalui pengamatan data yang ada di medsos Jepang, profesor Sawa yakin tindakan preventif kepolisian akan jauh semakin baik sehingga hal-hal seperti pembuhan tersebut tidak terulang lagi di masa depan.