Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Perang di Suriah

Gambar Satelit Kondisi Pusat Riset Suriah Sebelum dan Sesudah Serangan Udara AS

Gambar satelit baru menunjukkan sekilas kerusakan yang terjadi akibat serangan udara tersebut.

Gambar Satelit Kondisi Pusat Riset Suriah Sebelum dan Sesudah Serangan Udara AS
Satellite Image © 2018 DigitalGlobe via TIME
Bangunan pusat penelitian di Suriah sebelum digempur rudal AS. 

TRIBUNNEWS.COM, SURIAH - Sebelum fajar menyingsing, Sabtu (14/4/2018), koalisi pasukan sekutu yakni Amerika Serikat, Inggris dan Perancis meluncurkan lebih dari 100 rudal dan menargetkan tiga fasilitas kimia di Suriah sebagai balas dendam terhadap serangan kimia yang membunuh puluhan warga sipil pada 7 April lalu.

Gambar satelit baru menunjukkan sekilas kerusakan yang terjadi akibat serangan udara tersebut.

Sebuah foto yang dirilis, Minggu (15/4/2018) oleh DigitalGlobe, sebuah perusahaan Amerika yang mengkhususkan diri dalam ruang citra satelit, menunjukkan apa yang tersisa dari Barzah pusat penelitian dan pengembangan di Damaskus setelah digempur.

gambar
Bangunan pusat penelitian di Suriah setelah digempur rudal AS.

Menurut pejabat Pentagon, target dipilih adalah yang berpartisipasi dalam penelitian, pengembangan dan penggunaan senjata kimia.

Baca: Suriah: Rusia Akhirnya Izinkan Petugas Investigasi Masuk ke Daerah Konflik di Douma

Berikut adalah apa yang tampak di situs Barzah ketika sebelum dan setelah gempuran AS dan sekutunya.

Total 76 rudal disesakkan ke situs Barzah, menurut Letjen Kenneth F. McKenzie Jr., Direktur Departemen Pertahanan bersama.

"Ini akan mengatur program senjata kimia Suriah kembali selama bertahun-tahun," McKenzie mengatakan dalam konferensi pers.

Suriah mengutuk serangan yang dinilai sebagai "pelanggaran menyolok terhadap hukum internasional," menurut kantor berita SANA.

Suriah telah terkunci dalam sebuah perang sipil sejak 2011 yang menewaskan sedikitnya 350.000 orang, menurut Observatorium Suriah untuk hak asasi manusia. (TIME) 

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Hasanudin Aco
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas