Amerika Serikat terapkan 'sanksi terberat', apakah Iran bisa tumbang?
Setelah mundur dari kesepakatan nuklir, Amerika Serikat memberlakukan sanksi terhadap Iran. Apakah Iran bisa bertahan dari hukuman pemerintah
Tak diragukan lagi ekspor minyak akan terkena dampak.
Namun Iran dan mitra-mitra mereka pasti akan mencari celah agar tetap bisa menjalin hubungan dagang.
"Dampaknya bisa sangat berat bagi Iran," ujar Ellie Geranmayeh dari lembaga kajian Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri.
"Tapi Iran sebelumnya sudah pernah mengalami beberapa kali, dan mereka bisa melewatinya," kata Geranmayeh.
Sanksi akan memaksa Iran menemukan cara-cara baru untuk menjual minyak, berdasarkan pengalaman bertahun-tahun menjual komoditas ini di masa lalu, ketika menjalani sanksi Barat.
Salah satunya, mungkin Iran akan meningkatkan hubungan yang lebih erat dengan Cina dan Rusia.
Dia juga mengatakan ekspor minyak Iran telah turun hampir satu juta barel per hari, sekaligus diperkirakan berdampak pada sumber utama pendanaan negara itu.
Bagaimana reaksi negara-negara Uni Eropa?
Inggris, Jerman dan Perancis - yang merupakan salah satu dari lima negara yang masih berkomitmen pada kesepakatan nuklir dengan Iran - keberatan dengan sanksi AS tersebut.
Mereka telah berjanji mendukung perusahaan-perusahaan Eropa yang melakukan "bisnis sah" dengan Iran dan telah menyiapkan mekanisme pembayaran alternatif - atau Special Purpose Vehicle (SPV) - yang akan membantu perdagangan perusahaan tanpa menghadapi hukuman AS.
Namun, para analis meragukan upaya ini secara material akan mengurangi dampak sanksi terhadap Iran.
Dan dalam beberapa hari terakhir, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan AS akan melakukan upaya "agresif" untuk menargetkan setiap perusahaan atau organisasi yang berupaya "menghindari sanksi kami".
Siapa yang dikecualikan?
Pemerintahan Trump telah memberikan pengecualian kepada delapan negara untuk terus mengimpor minyak Iran, tanpa menyebut jati diri mereka.
Mereka dilaporkan termasuk sekutu AS seperti Italia, India, Jepang dan Korea Selatan, serta Turki, Cina dan India.
Pompeo mengatakan negara-negara tersebut telah melakukan "pengurangan signifikan dalam ekspor minyak mentah mereka" tetapi membutuhkan "sedikit lebih banyak waktu".