Serangan kilang minyak Saudi: Trump peringatkan AS siap angkat senjata
Harga minyak melonjak ke harga tertinggi sejak Perang Teluk Senin (16/09) setelah Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat
Houthi berulang kali meluncurkan roket, misil dan drone ke daerah padat penduduk di Arab Saudi. Operasi tersebut paling tidak telah menewaskan empat warga sipil.
Yaman hancur karena konflik yang terus memburuk pada bulan Maret 2015, ketika Houthi menguasai sebagian besar wilayah barat negara itu, memaksa Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi melarikan diri ke luar negeri.
- Amerika Serikat sasar negara-negara pengimpor minyak Iran
- Empat kapal komersial 'disabotase' di lepas pantai Uni Emirat Arab, termasuk dua kapal tanker Arab Saudi
- Perusahaan minyak Arab Saudi tanam modal US$7 miliar di Malaysia
Karena mengkhawatirkan membesarnya kelompok yang diduga mendapat dukungan militer dari Iran yang mayoritas penduduknya Syiah, Arab Saudi dan delapan negara, yang sebagian besar berpenduduk Arab Sunni, melakukan serangan udara untuk mengembalikan kekuasaan pemerintah Presiden Hadi dan menerapkan blokade sebagian pada Yaman.
PBB menyatakan konflik telah menewaskan paling sedikitnya 7.290 warga sipil dan menyebabkan 80% penduduk, sekitar 24 juta orang, memerlukan bantuan kemanusiaan ataupun perlindungan, termasuk 10 juta orang yang menggantungkan diri pada bantuan makanan.
Juru bicara militer Houthi Yahia Sari pada hari Sabtu (14/09) mengatakan operasi terhadap sasaran Saudi hanya "akan meningkat dan semakin menyakitkan dibandingkan sebelumnya, selama agresi dan blokade terus berlanjut".
Baca tanpa iklan