Nasi Padang: Sejarah, kalori, dan semua hal yang perlu Anda ketahui
Nasi Padang masih menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia, bahkan mancanegara. Namun, ada berbagai hal unik dan menarik seputar Nasi Padang
Untuk menunjang pengiriman barang-barang tersebut, pemerintah Belanda membangun berbagai ruas jalan di seantero Sumatera Barat.
Sarana transportasi yang populer saat itu adalah kuda beban dan pedati, dan karena kuda perlu istirahat, ruas jalan dibagi menjadi beberapa etape (tahap, perhentian). Dalam jalan dari Padang hingga Bukittinggi, misalnya, terdapat enam etape.
Pada setiap etape tersedia pesanggrahan atau tempat istirahat untuk pejabat kolonial dan penginapan bagi penuntun kuda beban dan sais pedati. Penginapan tersebut sekaligus berfungsi sebagai warung atau kedai nasi. Inilah cikal bakal rumah makan Minangkabau di pinggir jalan.
Gusti mengatakan bahwa rumah makan Minangkabau telah ditemukan di luar Sumatera Barat pada awal abad 20; namun baru tersebar luas pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, berhubungan dengan eksodus masyarakat Minang pasca-PRRI.
Perkembangan itu didukung oleh fakta hampir semua laki-laki Minang pandai memasak. "Jadi usaha yang paling gampang itu ya bikin rumah makan," kata Gusti.
Mengapa Nasi Padang digemari masyarakat Indonesia?
Menurut Gusti, Nasi Padang begitu pas di lidah orang Indonesia berkat kemampuan orang Minangkabau mengombinasikan berbagai jenis makanan yang masuk ke tanah Minangkabau.
Rendang, misalnya, terinspirasi dari makanan India bernama goulash atau kalio. Ketika orang Minang hendak pergi merantau, kalio itu mereka olah dan keringkan menjadi rendang yang lebih tahan lama.
Selain makanan India, makanan China dan Arab juga menginspirasi beberapa menu dalam kuliner Minangkabau seperti gulai taoco dan gulai putih.
"Berdasarkan studi terhadap beberapa literatur tentang masakan Minangkabau, sejak abad ke-19, tampaknya makanan-makanan bersantan dan berbumbu banyak tidak asli Minangkabau tapi merupakan hasil persentuhan dengan masakan India yang banyak menggunakan bumbu, santan, dan gulai," Gusti menjelaskan.
Fadly Rahman, sejarawan kuliner dan penulis buku Rijstaffel, mengatakan elemen nasi sebagai makanan pokok dan lauk-pauk yang kaya rempah-rempah membuat Nasi Padang digemari masyarakat Indonesia.
Hal ini juga ditunjang oleh keberadaan rumah makan Padang yang jamak ditemukan di mana-mana, membuat Nasi Padang menjadi "makanan kolektif" masyarakat Indonesia.
Benarkah Nasi Padang lebih enak di Padang?
Banyak orang Minangkabau mengklaim bahwa Nasi Padang di Padang lebih enak daripada yang di luar Padang, termasuk Gusti.
Ia menduga hal itu karena para juru masak Minangkabau di perantauan menyesuaikan masakannya dengan lidah masyarakat tempat mereka berada.
Berdasarkan pembicaraan dengan sejumlah juru masak, Gusti menduga bahwa bumbu-bumbu yang digunakan di tanah Minang berbeda dengan bumbu di daerah lain.
Baca tanpa iklan