Nasi Padang: Sejarah, kalori, dan semua hal yang perlu Anda ketahui
Nasi Padang masih menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia, bahkan mancanegara. Namun, ada berbagai hal unik dan menarik seputar Nasi Padang
"Akan berbeda, umpamanya, rendang yang dibikin dengan kelapa Pariaman dengan rendang yang dibikin dengan kelapa Jawa," kata Gusti.
Sejarawan kuliner Fadly Rahman mengatakan bahwa teknik dan proses mengolah makanan di tanah Minang juga berbeda dengan di perantauan.
Misalnya dalam mengolah rendang, orang di luar tanah Minangkabau biasanya berpandangan bahwa rendang identik dengan daging. Padahal orang-orang Minang memandang rendang sebagai teknik mengawetkan makanan yang tidak cuma daging tapi bisa juga ikan, telur, tempe, tahu, dan sebagainya.
"Mereka bisa mengolah makanan-makanan itu untuk diawetkan," kata Fadly.
"Jika di Jawa, orang biasanya mengolah rendang sampai jadi kalio atau masih basah, tapi kalau di negeri asal sana, teknik mengolah rendang itu dengan durasi yang sangat lama hingga mengering, hitam, dan awet untuk berbulan-bulan bahkan."
Jadi meskipun sempat muncul kemarahan warganet atas komentar seorang juri kontes memasak yang mengatakan rendang seharusnya crispy, rendang yang awet, menurut Fadly, memang crispy.
Adapun dalam penggunaan bumbu atau rempah-rempah, orang-orang di tanah Minangkabau sangat mengedepankan bahan-bahan alami yang tumbuh di sekitar mereka.
"Santan, yang diperoleh secara alami dari pohon-pohon kelapa yang tumbuh subur di sana (tanah Minang), di sini (di luar Minang) cukup bisa digantikan dengan, misalnya, santan-santan instan, untuk kecepatan penyajian," kata Fadly.
Benarkah kalau dibungkus porsi nasinya lebih banyak?
Berdasarkan survei yang dilakukan BBC News Indonesia, 79% rumah makan Padang mengaku memberikan memberikan porsi nasi yang lebih banyak ketika dibungkus.
Menurut sejarawan Minangkabau Gusti Asnan, porsi nasi yang lebih banyak merupakan bentuk penghargaan bagi pembeli nasi bungkus karena telah mengurangi pekerjaan pemilik kedai.
"Kalau dibungkus itu pekerjaan saudagar berkurang, tidak perlu cuci piring, tidak makan tempat. Sebagai bonus bagi orang yang membeli, maka dilebihkan (nasinya)," tutur Gusti.
"Ini juga saya pikir bagian dari tradisi orang Minang yang lebih friendly, lebih menghargai, bahwa si pembeli tidak boleh dirugikan."
Sejarawan kuliner, Fadly Rahman, mengatakan pemberian porsi yang lebih banyak merupakan bagian dari upaya untuk menunjukkan kesan "royal".
"Royal dalam hal apapun — royal dalam bumbu, royal dalam penyajian. Dan sangat mengedepankan sensasi, seperti menyajikan piring dengan memangku di kedua tangan," ujarnya.
Seberapa sehatkah Nasi Padang?
Baca tanpa iklan