Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Cegah Informasi Virus Corona Meluas, China Batasi Akses Internet dan Hapus Artikel Bernada Kritik

Lebih dari 600 orang telah meninggal dunia akibat terjangkit virus baru corona yang mulai mewabah sejak akhir tahun lalu.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Cegah Informasi Virus Corona Meluas, China Batasi Akses Internet dan Hapus Artikel Bernada Kritik
SCMP/Xinhua
Tim medis memberikan kode kepada salah satu pasien virus corona. Dokter di Kota Wuhan mengisahkan bagaimana suka duka mereka dalam merawat pasien yang positif terkena virus. 

TRIBUNNEWS.COM, CHINA - Lebih dari 600 orang telah meninggal dunia akibat terjangkit virus baru corona yang mulai mewabah sejak akhir tahun lalu.

Meski demikian, informasi mengenai apa yang terjadi di lapangan di China, sumber wabah ini, sangat terbatas.

Awalnya, media di negara tersebut dapat memberitakan kabar mengenai epidemi ini secara rinci.

Namun belakangan ini, penyedia layanan internet bahkan menghapus beberapa artikel yang mengkritik upaya pemerintah untuk membatasi penyebaran virus.

Baca: Kondisi 78 WNI yang Dikarantina di Kapal Pesiar Akibat Terindikasi Virus Corona

Pejabat juga bahkan membatasi penyebaran peringatan-peringatan yang dibagikan seorang dokter saat virus corona mulai menyebar.

Dalam kesempatan yang langka, BBC berbicara dengan seorang pekerja medis di Hubei, provinsi yang menjadi episenter wabah ini.

Untuk melindungi identitasnya, ia hanya ingin diidentifikasi dengan nama keluarganya, Yao.

Rekomendasi Untuk Anda

Yao bekerja di sebuah rumah sakit di kota kedua terbesar di Hubei, Xiangyang.

Ia bekerja di "klinik demam", di mana ia bertugas menganalisis sampel darah dari orang-orang yang diduga terpapar virus corona.

Sebelum wabah ini tersebar, Yao tengah merencanakan untuk plesir ke Guangzhou untuk merayakan imlek bersama keluarganya.

Anak dan ibunya sudah berangkat terlebih dahulu. Tapi ketika wabah menyebar, Yao memutuskan untuk bekerja sukarela di Xiangyang.

"Memang benar kita hanya hidup sekali, tapi ada suara di dalam diriku yang berkata 'kamu harus pergi'," katanya pada BBC.

Awalnya, ia harus berjuang untuk meredam keraguannya akan keputusan tersebut.

"Aku mengatakan pada diriku sendiri: bersiaplah dan lindungilah dirimu baik-baik," kata Yao. "Bahkan ketika tidak ada pakaian pelindung, aku selalu bisa memakai jas hujan. Jika tidak ada masker, aku bisa meminta teman-temanku di penjuru China untuk mengirimnya untukku. Selalu ada cara."

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas