Tribun

Virus Corona

Hasil Penelitian: Virus Corona Sensitif Terhadap Suhu Tinggi, tapi Jangan Andalkan Musim Panas

Hasil Penelitian Mengungkapkan Bahwa Virus Corona Sensitif Terhadap Suhu Tinggi, Tapi Diimbau untuk Tidak Mengandalkan Musim Panas untuk Mematikannya.

Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Sri Juliati
Hasil Penelitian: Virus Corona Sensitif Terhadap Suhu Tinggi, tapi Jangan Andalkan Musim Panas
AFP
Sebuah studi baru menunjukkan penyebaran virus corona bisa melambat dalam cuaca yang lebih hangat. 

Beberapa negara dan otoritas kesehatan mengandalkan cuaca hangat seperti pada umumnya virus serupa yang menyebabkan flu biasa dan influenza.

Baca: Ini Tiga Protokol Pemerintah dalam Upaya Menghadapi Penyebaran Virus Corona

Baca: Pemerintah Percayakan Otoritas Singapura soal Penanganan Satu WNI Positif Virus Corona

Baca: Update Kasus Corona Indonesia: Kondisi 4 Pasien hingga Singapura Konfirmasi Lagi WNI Positif Corona

Jumlah Kasus Naik Sejalan dengan Suhu Rata-rata

Lebih lanjut, tim Guangzhou mengatakan, penelitian mereka berdasarkan kasus baru virus corona yang dikonfirmasi di seluruh dunia antara 20 Januari-4 Februari 2020.

Termasuk lebih dari 400 kota dan wilayah China.

Dalam penelitian tersebut, data meteorologi resmi untuk Januari di seluruh China dan ibu kota masing-masing negara terkena dampak digunakan sebagai model.

Berdasar data itu, analisis menunjukkan, jumlah kasus naik sejalan dengan suhu rata-rata.

"Suhu... memiliki dampak pada lingkungan hidup manusia," terang studi itu.

"(Dan) dapat memainkan peran penting dalam kesehatan masyarakat dalam hal ini pengembangan dan pengendalian epidemi," jelas studi tersebut.

Lebih lanjut dikatakan, iklim mungkin berperan dalam penyebaran virus di Wuhan.

Pasien dengan gejala ringan virus corona COVID-19 beraktivitas saat menjalani perawatan di sebuah pusat pameran yang diubah menjadi rumah sakit darurat di Wuhan, Hubei, China (17/2/2020). Data hingga Rabu (19/2/2020) ini, korban meninggal akibat virus corona di China sudah mencapai 2.000 orang setelah dilaporkan 132 kasus kematian baru.
Pasien dengan gejala ringan virus corona COVID-19 beraktivitas saat menjalani perawatan di sebuah pusat pameran yang diubah menjadi rumah sakit darurat di Wuhan, Hubei, China (17/2/2020). Data hingga Rabu (19/2/2020) ini, korban meninggal akibat virus corona di China sudah mencapai 2.000 orang setelah dilaporkan 132 kasus kematian baru. (AFP/STR/CHINA OUT)

Studi Harvard School

Halaman
1234
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas