Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 16:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Tempe Mendoan Makin Digemari di Australia, Dianggap Pengganti Daging dan Ramah Lingkungan

Tempe goreng yang dibalut adonan tepung, atau dikenal dengan nama tempe mendoan, digemari juga oleh banyak warga Australia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Tempe Mendoan Makin Digemari di Australia, Dianggap Pengganti Daging dan Ramah Lingkungan
ABC News/Natasya Salim
Graham yang sudah berlangganan tempe selama belasan tahun mengatakan kuliner Asia sudah semakin berkembang di Australia. (ABC News: Natasya Salim) 

Sayangnya, menurut John dan Kee, masih banyak warga Australia yang tidak mengonsumsi tempe.

"Menurut kami, masih banyak warga Australia yang tidak tahu tempe. Mungkin kalau mereka mencoba satu kali saja, mereka pasti suka."

Tempe makin populer di Australia

Sebagai pembuat dan penjual tempe, Sinta Santoso pernah merasakan kesulitan menjual tempe, saat ia memulai bisnisnya 15 tahun lalu.

"Pertama kita buka sangat merepotkan karena orang selalu tanya tempe itu apa dan kita seharian mengulang terus, mengedukasi publik tentang bagaimana tempe dibuat, bedanya tempe dan tahu," kata Sinta.

"Sekarang, orang cuma datang dan bilang, 'Bolehkah saya beli lima tempe? Atau enam?' Jadi [kami] tidak perlu lagi menerangkan tempe itu apa."

Menurut perempuan asal Malang ini, tempe juga diminati warga Australia karena semakin banyak orang menjadi vegetarian.

"Beberapa tahun terakhir jumlah vegetarian meningkat di Australia dan global. Tempe itu tepat sekali untuk menjadi sustainable food atau makanan berkelanjutan," katanya.

Rekomendasi Untuk Anda

"Karena tempe 'natural', tidak pakai bahan kimia dan difermentasi."

Untuk rencanannya ke depan, perempuan yang sudah 37 tahun tinggal di Australia ini ingin membuat produk yang dijualnya lebih ramah lingkungan.

"Di Indonesia pembuat tempe menggunakan daun pisang, sedangkan di sini penggantinya plastik dan orang tidak senang karena tidak ramah lingkungan," kata Sinta.

"Saya ingin mengembangkan tempe memakai 'sustainable packaging', kalau bisa agar 'reusable' [atau bisa digunakan berkali-kali] dan 'biodegradeable' [atau cepat terurai] ."

Menambah variasi makanan di Australia

Graham Chappell, warga Australia yang sudah belasan tahun mengkonsumsi tempe, merasa sudah saatnya makanan tradisional Indonesia ini lebih dikenal di Australia.

"Mereka [warga Australia] harus tahu lebih banyak tentang makanan Asia," kata pria asal Sydney, yang istrinya berasal dari Indonesia itu.

"Mereka perlu menambah variasi makanan dan tahu kalau tempe juga bagus untuk kesehatan."
Menurut Graham yang suka menambahkan bubuk cabai di hampir semua makanannya, variasi makanan di Australia sudah meningkat pesat dibandingkan dulu.

"Sejak orang-orang Yunani datang ke Australia, diikuti orang-orang dari China dan juga Indonesia, variasi makanan di sini semakin banyak," katanya.

"Dan jumlah makanan yang berbumbu semakin banyak. Tidak seperti beberapa tahun lalu ketika makanan di Australia masih hambar

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas