Pasangan Ilmuwan di Balik Vaksin Covid-19 Kolaborasi BioNTech dan Pfizer
Senin lalu, BioNTech dan Pfizer mengumumkan bahwa vaksin untuk Covid-19 yang dikembangkan oleh Dr Sahin dan timnya menunjukkan efektivitas
Penulis:
Fitri Wulandari
Editor:
Sanusi
Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari
TRIBUNNEWS.COM, BERLIN - Perusahaan Jerman BioNTech yang didirikan oleh dua orang ilmuwan, telah bekerja sama dengan Pfizer dalam membuat vaksin virus corona (Covid-19) yang diklaim terbukti menunjukkan efektivitas lebih dari 90 persen.
Dua tahun lalu yakni tahun 2018, Dr Ugur Sahin tampil di panggung konferensi di Berlin, Jerman dan membuat prediksi yang cukup berani.
Ia berbicara kepada banyak ahli penyakit menular dan mengatakan bahwa perusahaannya mungkin dapat menggunakan apa yang disebut sebagai teknologi messenger RNA (mRNA) untuk mengembangkan vaksin secara cepat jika terjadi pandemi global.
Baca juga: 4 Pertanyaan yang Belum Terjawab Mengenai Vaksin Pfizer, Apakah Aman Bagi Orang Tua?
Pada saat itu, Dr Sahin dan perusahaannya, BioNTech, kurang dikenal di dunia, karena merupakan perusahaan rintisan bioteknologi Eropa.
Dikutip dari laman The New York Times, Rabu (11/11/2020), BioNTech, yang didirikan Dr Sahin bersama istrinya, Dr Özlem Türeci, sebagian besar berfokus pada perawatan kanker namun mereka tidak pernah membawa produknya ke pasaran.
Baca juga: Uji Vaksin Covid-19: Relawan Vaksin Pfizer Alami Pusing dan Nyeri, Ada yang Merasa Mabuk
Saat itu virus corona (Covid-19) pun belum ada.
Namun kata-kata yang disampaikan Dr Sahin saat konferensi Berlin pada 2 tahun lalu itu tampaknya terbukti.
Pada Senin lalu, BioNTech dan Pfizer mengumumkan bahwa vaksin untuk Covid-19 yang dikembangkan oleh Dr Sahin dan timnya menunjukkan efektivitas lebih dari 90 persen dalam mencegah penyakit ini.
Pengujian dilakukan pada relawan yang belum terbukti terinfeksi corona.
Hasil pengujian itupun membuat BioNTech dan Pfizer diklaim menjadi yang terdepan dalam kompetisi penemuan obat untuk penyakit yang telah menewaskan lebih dari 1,2 juta orang di seluruh dunia.
"Ini bisa menjadi awal dari akhir era Covid-19," kata Dr Sahin dalam sebuah wawancara, pada Selasa kemarin.
Perlu diketahui, BioNTech mulai mengembangkan vaksin pada Januari lalu, setelah Dr Sahin membaca artikel di jurnal medis The Lancet yang membuatnya yakin bahwa virus corona akan meledak menjadi pandemi besar-besaran.
Saat itu virus ini menyebar secara cepat pada beberapa wilayah di China.
Para ilmuwan di perusahaan yang berbasis di Mainz, Jerman ini pun akhirnya membatalkan liburan mereka dan mulai mengerjakan apa yang mereka sebut Proyek Lightspeed.
Baca tanpa iklan