Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Dokter Ini Mengaku Hampir Diintubasi Setelah Alerginya Muncul Gara-gara Vaksin Moderna

Seorang dokter di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat (AS) mengatakan ia merasakan salah satu reaksi alergi terburuk

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Sanusi
zoom-in Dokter Ini Mengaku Hampir Diintubasi Setelah Alerginya Muncul Gara-gara Vaksin Moderna
Freepik
ILUSTRASI 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, MASSACHUSETTS - Seorang dokter di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat (AS) mengatakan ia merasakan salah satu reaksi alergi terburuk yang pernah dirinya alami, setelah menerima suntikan vaksin virus corona (Covid-19) yang diproduksi Moderna.

Ini merupakan salah satu kasus yang terjadi pasca serangkaian kasus serupa yang disebabkan vaksin lainnya, Pfizer.

Dikutip dari laman Russia Today, Minggu (27/12/2020), seorang Dokter Onkologi Hematologi di Boston Medical Center, Hossein Sadrzadeh, telah diberi obat tersebut pada Malam Natal.

Baca juga: Gubernur Jawa Timur Khofifah Mengaku Siap Menjadi Orang Pertama yang Divaksin Covid-19 di Jatim

Baca juga: Disuntik Vaksin Corona Moderna, Dokter di Amerika Alergi Hebat, Pusing dan Jantung Berdebar Kencang

Sadrzadeh yang memiliki alergi kerang akut, mengatakan jantungnya mulai berdetak kencang setelah menerima vaksin.

Awalnya, ia mengira peningkatan detak jantungnya itu muncul karena kecemasan yang ia rasakan terkait pengalaman vaksinasi para penderita alergi lainnya.

Karena sebelumnya ia membaca laporan medis serius mengenai bagaimana reaksi orang yang memiliki riwayat alergi saat disuntik vaksin Pfizer.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun, dirinya segera menyadari bahwa ia menderita sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Dalam beberapa menit, lidah dan tenggorokan Sadrzadeh mulai terasa 'kesemutan dan mati rasa', reaksi ini ia kaitkan dengan alergi kerangnya.

Bahkan yang lebih memprihatinkan, tekanan darahnya pun kemudian turun menjadi sangat rendah, sehingga tidak bisa dideteksi monitor.

Ia beruntung, karena sejak awal membawa EpiPen dan memberikan pada dirinya sendiri, sebelum staf rumah sakit membawanya ke Unit Gawat Darurat (UGD).

EpiPen merupakan alat penyuntik epinefrin otomatis yang digunakan untuk mengobati reaksi alergi yang disebut anafilaksis.

Sedangkan anafilaksis memiliki potensi yang mengakibatkan kematian.

Sehingga pasien yang berada dalam kondisi ini, harus mendapatkan pertolongan terlebih dahulu menggunakan EpiPen sebelum ditangani layanan darurat.

Setelah menggunakan EpiPen, Sadrzadeh kemudian diberi beberapa obat, termasuk steroid dan Benadryl.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas