Tribun

Virus Corona

Jadi Trendi ''Makan Diam'' Demi Hindari Penularan Virus Corona di Jepang

pemilik restoran kari Masala Kitchen sejak 2014, di Hakata Fukuoka, mempromosikan poster "Makan Diam" di twitter yang kini dilihat lebih dari 80.000

Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Jadi Trendi ''Makan Diam'' Demi Hindari Penularan Virus Corona di Jepang
Foto Richard Susilo
Sebuah restoran di Jepang memasang poster "Makan Diam" 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Sebuah poster jadi trendi di Jepang setelah Shinobu Mitsuji, mantan desainer, pemilik restoran kari Masala Kitchen sejak 2014, di Hakata Fukuoka, mempromosikan poster "Makan Diam" di twitter yang kini dilihat lebih dari 80.000 orang.

"Umumnya mendukung ide saya tersebut karena itu memang untuk restoran saya sendiri. Di net ada yang tidak setuju ya biasa saja. Tapi umumnya dan tamu saya setuju sekali dengan ide ini, makan sambil diam (Mokushoku)," papar Mitsuji khusus kepada Tribunnews.com Rabu (20/1/2021).

Desain Mitsuji pun kini telah tersebar ke toko lain khususnya tetangga-tetangganya dan bahkan usaha lain seperti training tempat olahraga dengan nama "Mokutore".

"Ya syukurlah toko-toko dekat sini yang saya sampaikan juga senang menerimanya ikut mendukung dengan baik dan kata-kata ini juga telah menyebar luas saat ini ke bidang lainnya juga bukan hanya restoran. Saya senang hal positif ini bisa menyebar dengan baik," tambahnya.

Seorang warga Fukuoka lainnya melihat sesuatu yang positif dari ide poster tersebut meskipun mungkin pada awalnya agak ketat juga mungkin dipikirkan orang lain.

"Saya pikir dia adalah orang yang sangat ketat dan teliti. Pada awalnya, mungkin  banyak orang tidak menyukainya. Tapi di luar dugaan malah kini jauh semakin banyak orang mendukung poster tersebut," ungkap Kanamata seorang warga Fukuoka kepada Tribunnews.com Rabu (20/1/2021).

Mitsuji membuat restorannya dengan konsep "hidangan bumbu Hakata".

Prefektur Fukuoka juga telah memasuki deklarasi darurat (PSBB) dan menggunakan layanan antar-jemput, pengiriman, pemesanan lewat pos, dan lain-lain.

"Saya ingin tulus dan sehat untuk pelanggan yang berani memilih makan di dalam dengan diam," ungkap Mitsuji.

Itulah sebabnya Mitsuji membuat poster "Makan Diam" yang dipublikasikan di tokonya dan berbagai toko lainnya saat ini di Jepang.

“Tolong jangan berbicara tanpa masker. Mohon bekerja sama dengan pengendalian infeksi!. Saya juga berpikir apakah ada ekspresi yang lebih lugas dan mudah dipahami? Akhirnya menemukan kata Makan Diam."

Poster itu menuliskan pada poster, "Tolong bekerja sama dengan makanan tanpa suara", kata-kata seperti "Percakapan selama makan menimbulkan risiko infeksi percikan" dan "Risiko ini tidak terbatas pada makan di luar, tetapi juga di sekolah dan di tempat kerja".

Makan diam adalah nada yang cukup kuat, tetapi karena memiliki jangkauan interpretasi yang lebih luas daripada makan statis, niat ini dapat disampaikan hampir apa adanya. Bergantung pada cara penyampaiannya.

Mitsuji juga menyampaikan poster itu lewat internet dan mempersilakan siapa saja menyebarluaskan gratis.

“Menyediakan makan bukan satu-satunya alasan sebuah restoran ada. Ruang termasuk mengobrol dan momen juga merupakan layanan penting.  Namun, karena tidak ada peralatan atau ruang yang diperlukan untuk melaksanakannya, maka solusinya dengan Makan Diam. Selain  untuk melindungi toko, juga melindungi pelanggan saya, dan staf saya,."

Bagi yang mau mencoba rasa bumbu Hakata, silakan datang ke Masala Kitchen dekat stasiun Ohashi Minamiku Fukuoka.

Sementara itu kelompok bisnis BBB WNI yang da di Jepang juga berupaya untuk memberikan pendidikan pengetahuan dan penataran bisnis melalui zoom gratis. Silakan email ke: bbb@jepang.com dengan subject: BBB.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas