Tribun

Dampak Covid19

SUARA Hati Seorang Dokter India Selama Covid:  'Saya Khawatir yang Terburuk Belum Datang'

Seorang dokter menggambarkan hari-hari sulit dan menyesakkan dada menghadapi pasien yang berjuang hidup dari tsunami Covid-19 di India.

Editor: hasanah samhudi
zoom-in SUARA Hati Seorang Dokter India Selama Covid:  'Saya Khawatir yang Terburuk Belum Datang'
ALJAZEERA
Dr Aftabuddin Ahmed menyuarakan kekhawatirannya bahwa situasi Covid-19 India bisa lebih buruk lagi. 

TRIBUNNEWS.COM, NEW DELHI - Aftabuddin Ahmed adalah seorang ahli bedah berusia 37 tahun di sebuah rumah sakit pemerintah di Delhi.

Selama gelombang pertama pandemi, rumah sakit tempatnya bekerja merawat lebih dari 5.000 pasien - Covid dan non-Covid - per hari.

Sejak gelombang kedua dimulai pada awal April, rumah sakit telah diubah menjadi fasilitas khusus Covid. Ratusan pasien baru datang setiap hari.

Inilah kisahnya seperti disampaikan ke Minreet Kaur, Kamis (6/5). Kisah tentang system perawatan yang terabaikan dan diterjang krisis yang tak pernah terjadi sebelumnya.

SAAT ini sudah larut malam dan mata saya lelah. Setiap hari saya mulai bekerja pukul 6 pagi. Hari ini, dimulai dengan panggilan darurat orang yang mencari perawatan untuk orang yang disayanginya.

Saya harus menolaknya karena kami tidak memiliki tempat tidur yang kosong. Saya merasa tidak berdaya karena mengetahui saya hanya bisa merujuk mereka ke rumah sakit lain, padahal di tempat itu mungkin juga tak ada tempat tidur kosong.

Kekurangan tempat tidur dan oksigen ini tidak seperti yang pernah saya lihat sebelumnya.

Baca juga: Permintaan Oksigen Melonjak Tujuh Kali Lipat, Kasus Covid-19 India Capai 400.000 Kali Kedua  

Setiap hari, saya menerima sekitar 20 panggilan, suara putus asa membuat saya merasa tidak enak.

“Ayah saya sangat membutuhkan oksigen, tolong bantu dia atau dia akan mati,” beberapa memohon kepada saya.

Yang lain menangis ketika mereka memberi tahu saya bahwa mereka memiliki anak kecil dan takut mati dan membiarkan mereka sendirian.

Beberapa lainnya berteriak; mereka percaya itu salah kami. Tapi kenyataannya situasi ini di luar kendali.

Saya mencoba menasihati orang-orang dengan kemampuan terbaik saya, mengarahkan mereka ke akun media sosial tepercaya yang memberi tahu orang-orang di mana mereka dapat menemukan oksigen atau ke gurdwaras dan tempat lain yang menyediakannya.

Menjelang akhir shift saya hari ini, saya melihat sekeliling di rumah sakit dan merasa sulit untuk mencerna apa yang saya lihat.

Kami memiliki 400 tempat tidur dan masing-masing ditempati oleh seorang pasien Covid.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas