Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Olimpiade Tokyo

Bos Rakuten Sebut Olimpiade Jepang Seperti Bunuh Diri

Presiden Rakuten Group mengatakan akan terlalu berisiko untuk mengadakan Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo di tengah penundaan vaksin.

Bos Rakuten Sebut Olimpiade Jepang Seperti Bunuh Diri
Foto Forbes
Hiroshi Mikitani, Presiden Rakuten Group. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Hiroshi Mikitani, Presiden Rakuten Group mengatakan akan sangat berbahaya dan terlalu berisiko untuk mengadakan Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo di tengah penundaan vaksinasi dengan virus corona.

Presiden Rakuten Group Hiroshi Mikitani mengatakan hal itu dalam sebuah wawancara dengan CNN di Amerika Serikat pada tanggal 14 Mei terkait Olimpiade Tokyo dan Paralimpiade.

"Benar bahwa vaksinasi ditunda, sementara Olimpiade ini adalah acara internasional besar yang menarik orang dari seluruh dunia. Ini sangat berbahaya dan terlalu berisiko. Saya menentangnya," kata Hiroshi Mikitani.

Ketika ditanya apakah acara tersebut dapat dibatalkan, dia mengatakan, "Ada banyak kemungkinan. Saya berbicara dengan orang-orang dari negara lain secara pribadi, tetapi banyak orang yang tidak terlalu mendukung acara ini."

"Sejujurnya, saya menyebutnya seperti bunuh diri," kata Hiroshi Mikitani terkait kebijakan pemerintah Jepang menjadi tuan rumah Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo musim panas ini.

Baca juga: PM Yoshihide Suga Ingatkan Kembali Peserta Olimpiade untuk Mengikuti Aturan di Jepang

Tanggal 22 April lalu, Pemerintah Jepang menjadi lebih berhati-hati tentang fakta bahwa Rakuten Group telah menerima investasi dari anak perusahaan raksasa IT China, Tencent.

Tencent Holdings Ltd., juga dikenal sebagai Tencent, adalah perusahaan induk konglomerat teknologi multinasional China yang didirikan pada tahun 1998.

"Pemerintah Jepang berniat memantau Rakuten berdasarkan "Undang-Undang Devisa", yang mengatur pembatasan investasi investor asing di perusahaan Jepang, karena dikhawatirkan informasi pelanggan akan bocor ke otoritas China melalui Tencent," ungkap sumber Tribunnews.com, Kamis (22/4/2021).

Sementara itu upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif melalui aplikasi zoom terus dilakukan bagi warga Indonesia secara aktif dengan target belajar ke sekolah di Jepang. Info lengkap silakan email: info@sekolah.biz dengan subject: Belajar bahasa Jepang.

Ikuti kami di
Editor: Dewi Agustina
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas