Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Virus Corona

Kepala Klinik di Jepang Mulai Kewalahan, Berharap Pemerintah Tegas Terhadap Pelanggar Aturan PSBB

Kuramochi melihat semakin banyak kalangan muda dirawat di rumah sakit akan bahaya.

Kepala Klinik di Jepang Mulai Kewalahan, Berharap Pemerintah Tegas Terhadap Pelanggar Aturan PSBB
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Jin Kuramochi (49), Kepala Klinik pengobatan pernapasan Kuramochi di Utsunomiya Tochigi Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Jin Kuramochi (49), Kepala Klinik Pengobatan Pernapasan Kuramochi di Utsunomiya Tochigi Jepang merasakan kenaikan pesat kasus Covid-19 saat ini sebagai hal krisis yang perlu ditangani dengan tindakan tegas oleh pemerintah.

"Saat ini sebenarnya sudah mulai krisis kembali dan yang banyak pasien corona di tempat kami justru kalangan muda usia 20-40 tahunan," papar Dokter Jin Kuramochi di TV Fuji, Jumat (30/7/2021).

Kuramochi melihat semakin banyak kalangan muda dirawat di rumah sakit akan bahaya, akan lama perawatannya yang berarti akan semakin meningkatkan krisis medis di Jepang.

Kliniknya memiliki 48 kamar tidur bagi pasiennya kini sudah terisi 45 kamar tidur keadaan sangat ketat (krisis) keadaannya.

Oleh karena itu Kuramochi mengharapkan pemerintah dapat mengimbau kepada masyarakat agar penderita Covid-19 bisa dirawat di rumah saja dulu supaya kalangan medis tidak mencapai masa krisis nantinya yang akan membahayakan semua pihak.

"Perlu tindakan tegas pemerintah mungkin meminta masyarakat berdiam di rumah lebih sering dan yang merasa terinfeksi ringan bisa beristirahat di rumah dulu, agar rumah sakit tetap dapat membantu kalangan sakit berat dengan baik," ujarnya.

Mantan Wali Kota Osaka yang juga pengacara, Toru Hashimoto memiliki ide agar pemerintah bekerjasama dengan Ikatan Dokter Jepang (IDJ) memungkinkan pemeriksaan online kepada masyarakat yang ada di rumah.

Baca juga: Kasus Covid-19 di Tokyo Jepang 3.865 Orang Per Hari, Lampu Penyeberangan di Hachiko Sempat Dimatikan

"Namun hal ini tampaknya ditentang pihak IDJ karena mungkin dianggap tidak akan akurat dan justru membahayakan pasien itu sendiri. Kalau sistem pemeriksaan jarak jauh dapat dimungkinkan dan dilegalkan maka akan sangat terbantu, mungkin masyarakat tak perlu ke rumah sakit untuk perawatan mereka saat ini," papar Hashimoto.

Jumlah kasus Covid-19 di Jepang mencapai angka tertinggi dalam sejarah, 3.865 orang per hari hanya di Tokyo dan 10.689 orang di semua tempat di Jepang.

Jumlah ini merupakan jumlah tertinggi kasus terjadi per hari di dalam sejarah Jepang.

Hashimoto juga meminta tindakan tegas dari pemerintah.

"Misalnya buat aturan jelas, kalau memasuki restoran lewat jam 8 malam akan didenda 500.000 yen, atau kalau tidak pakai masker masuk ke dalam toko juga denda. Itu bisa dilakukan pemerintah kalau mau," kata Hashimoto.

Sementara itu beasiswa (ke Jepang) dan upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif melalui aplikasi zoom terus dilakukan bagi warga Indonesia secara aktif dengan target belajar ke sekolah di Jepang. Info lengkap silakan email: info@sekolah.biz dengan subject: Belajar bahasa Jepang.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas