Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Korea Utara Menuntut  AS Mencabut Sanksi Internasional Jika Ingin Pembicaraan Denuklirisasi

Anggota Parlemen Korea Selatan mengatakan Korea Utara menuntut AS mencabut sanksi internasional jika ingin perundingan denuklirisasi dilanjutkan

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: hasanah samhudi
zoom-in Korea Utara Menuntut  AS Mencabut Sanksi Internasional Jika Ingin Pembicaraan Denuklirisasi
AFP PHOTO/KCNA Via KNS
Foto diambil pada Kamis (29/7/2021) dan dirilis kantor berita resmi Korea Utara (KCNA( pada Jumat (30/7/2021) menunjukkan pemimpin Korut KimJong Un berpoto bersama peserta Konferensi Nasional Veteran perang Ke-7 di Pyongyang. 

“Amerika Serikat harus dapat membawa mereka kembali ke dialog dengan menyesuaikan kembali beberapa sanksi,” kata Kim, mengutip Park.

Seorang pejabat senior dalam pemerintahan Presiden AS Joe Biden mengatakan pada bulan Maret bahwa Korea Utara tidak menanggapi upaya diplomatik.

Setelah meninjau kebijakan Korut, Pemerintah AS mengatakan akan berdiplomasi agar Korut membatalkan program nuklirnya tanpa AS harus memberi kesepakatan.

Latihan militer yang melibatkan pasukan AS dan Korea Selatan, yang dilihat Korea Utara sebagai persiapan untuk invasi, dapat menghalangi langkah positif apa pun.

Adik pemimpin Korea Utara, Kim Yo Jong memperingatkan Korea Selatan pada hari Minggu (1/8/2021) bahwa latihan bersama dengan Amerika Serikat akan merusak membaiknya hubungan antara kedua Korea.

Baca juga: Korea Selatan Jatuh ke Jurang Resesi, Ekonomi Korut Justru Tumbuh Positif

Baca juga: Konflik Korsel vs Korut Makin Panas: Perang Selebaran dan Propaganda

Anggota parlemen Ha mengatakan Kim Jong Un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in telah menyatakan kesediaan untuk membangun kembali kepercayaan dan meningkatkan hubungan sejak April dan Kim telah meminta untuk menghubungkan kembali hotline.

Disebutkan, Korea Utara membutuhkan sekitar 1 juta ton beras bahkan setelah melepaskan cadangan yang disimpan jika terjadi perang, karena ekonominya telah terpukul oleh virus corona dan cuaca buruk tahun lalu.

Rekomendasi Untuk Anda

Bank sentral Korea Selatan mengatakan pekan lalu bahwa  ekonomi Korea Utara mengalami kontraksi terbesar dalam 23 tahun pada 2020.

“Mereka kehabisan cadangan dan menyimpan sekitar 400.000 ton tanaman musim panas termasuk jelai dan kentang yang baru saja mereka panen,” kata Kim Byung-kee. (Tribunnews.com/JapanTimes/Hasanah Samhudi)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas