Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Aktivis Hak-Hak Perempuan Afghanistan: Jangan Tertipu Topeng Taliban

Aktivis hak-hak perempuan Afghanistan, Sonita Alizadeh mendesak pemimpin dunia untuk membela hak-hak perempuan dan anak perempuan di Afghanistan.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Ika Nur Cahyani
Editor: Tiara Shelavie
zoom-in Aktivis Hak-Hak Perempuan Afghanistan: Jangan Tertipu Topeng Taliban
UNICEF
Taliban segera izinkan anak perempuan Afghanistan kembali ke sekolah. 

Taliban Ingin Bicara di Majelis Umum PBB

Taliban meminta untuk bicara dengan para pemimpin dunia di Majelis Umum PBB minggu ini di New York City.

Menteri Luar Negeri pemerintahan Taliban mengajukan permintaan itu dalam sebuah surat pada Senin.

Kini Komite PBB akan memutuskan permintaan tersebut.

Dilansir BBC, Taliban juga menunjuk juru bicara mereka yang berbasis di Doha, Suhail Shaheen sebagai Duta Besar Afghanistan untuk PBB. 

Kelompok militan ini mengatakan, utusan dari pemerintah yang digulingkan tidak lagi mewakili Afghanistan

Menurut juru bicara PBB, permintaan Taliban itu tengah dipertimbangkan komite kredensial, yang sembilan anggotanya termasuk AS, China, dan Rusia

Rekomendasi Untuk Anda

Tetapi mereka tidak mungkin bertemu sebelum akhir sesi Majelis Umum pada Senin depan.

Sampai saat itu, di bawah aturan PBB, Ghulam Isaczai tetap menjadi Duta Besar Afghanistan untuk badan global ini.

Anggota Taliban berkendara di penjara Pul-e-Charkhi di Kabul pada 16 September 2021. AFP/BULENT KILIC
Anggota Taliban berkendara di penjara Pul-e-Charkhi di Kabul pada 16 September 2021. AFP/BULENT KILIC (AFP/BULENT KILIC)

Baca juga: Taliban Izinkan Anak Perempuan Afghanistan Kembali Bersekolah Secepatnya

Baca juga: Larangan Taliban Terhadap Perempuan Afghanistan yang Bekerja Picu Kemarahan

Isaczai dijadwalkan berpidato di hari terakhir pertemuan yakni pada 27 September.

Namun Taliban mengatakan misinya "tidak lagi mewakili Afghanistan".

Mereka juga mengatakan bahwa beberapa negara tidak lagi mengakui mantan Presiden Ashraf Ghani sebagai pemimpin.

Diketahui, eks Presiden Afghanistan Ashraf Ghani meninggalkan negara saat Taliban menguasai Kabul pada 15 Agustus lalu.

(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas