Tribun

3 Bulan Pimpin Jepang, Fumio Kishida Dijuluki 'PM yang Hanya Berpikir Tapi tidak Melakukan'

Kalangan oposisi Jepang mengatakan Kishida sebagai orang yang Kelihatannya serius dalam menangani berbagai hal, namun sulit untuk melaksanakanya.

Editor: Dewi Agustina
zoom-in 3 Bulan Pimpin Jepang, Fumio Kishida Dijuluki 'PM yang Hanya Berpikir Tapi tidak Melakukan'
Richard Susilo
PM Jepang Fumio Kishida. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Tepat 3 bulan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida memimpin Jepang. Semua survei dari media Jepang menunjukkan dukungan kepada PM Kishida di atas 50 persen, angka ini cukup tinggi dalam perpolitikan Jepang.

"Kemampuan mendengar dari banyak orang memang tinggi dan itu yang dinilai masyarakat. Dan upaya menyampaikan kepada masyarakat dengan manifestasi kelonggaran yang memperdalam kepercayaan diri dilakukannya," papar Hiroshi Izumi (74), wartawan senior politik Jepang, Kamis (30/12/2021).

Hiroshi Izumi sudah 40 tahun bergelut di dunia politisi Jepang. Dia juga mantan wartawan Jiji Press.

Kalangan oposisi Jepang mengomentari mantan PM Shinzo Abe sebagai orang yang suka "terbang mencemooh" dan Yoshihide Suga juga mantan PM Jepang sebagai "PM yang baca saja."

Lalu terhadap PM Kishida, tidak sedikit kalangan oposisi Jepang mengatakan sebagai orang yang "Kelihatannya memang serius dalam menangani berbagai hal, namun sulit untuk melaksanakannya."

Di banyak kalangan politisi termasuk kalangan koalisi tidak sedikit yang menyatakan PM Kishida masih belum bisa "memegang" sekitarnya.

"Memang benar dia banyak mendengar suara di masyarakat. Namun dia lemah dalam fondasi berpikir dan berencana, termasuk juga tak bisa memegang bawahannya. Akibatnya semua ide, suara yang diterimanya, saat pelaksanaan jadi hilang kekuatannya, terbengkalai, kurang greget," ungkap seorang politisi sumber Tribunnews.com, Jumat (30/12/2021).

Baca juga: Hadapi Tahun Baru 2022, PM Jepang Fumio Kishida Imbau Warga Tetap Jaga Protokol Kesehatan

Tak heran muncul istilah saat ini PM Kishida sebagai "perdana menteri yang hanya berpikir dan tidak melakukan".

PM Kishida berulang kali menekankan ingin mewujudkan kapitalisme baru sebagai strategi pertumbuhan dan strategi distribusi sejak pernyataan resmi pertamanya 8 Oktober 2021.

"Pilar pertama adalah memperkuat fungsi distribusi kepada pekerja. Dari perspektif jangka panjang, manajemen “Mikata Yoshi” di mana tidak hanya pemegang saham tetapi juga karyawan dan mitra bisnis dapat memperoleh manfaat."

"Penting untuk memperbaiki lingkungan untuk ini, seperti meningkatkan pengungkapan informasi non-keuangan dan meninjau pengungkapan triwulanan," ungkap Masanori Ogawa, wartawan Shukan Gendai 21 Desember lalu.
"Kapitalisme baru" identik dengan pemerintahan Kishida," lanjutnya.

Di antara mereka, kebijakan yang paling spesifik adalah revisi "pengungkapan hasil keuangan triwulanan", yang mengharuskan perusahaan yang terdaftar untuk mengumumkan hasil bisnis mereka setiap tiga bulan.

Namun dalam pernyataan kepercayaan pada 6 Desember, setelah pemilihan umum, "review pengungkapan triwulanan" persis sama dengan "Kami akan mempromosikan pengungkapan informasi non-keuangan untuk memvisualisasikan investasi sumber daya manusia di perusahaan."

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas