Tribun

Rusia: NATO Menguji 'Peralatan' Bawah Air di Dekat Nord Stream

Zakharova mengatakan bahwa NATO terlibat dalam kegiatan militer di dekat lokasi di mana kebocoran ditemukan.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Rusia: NATO Menguji 'Peralatan' Bawah Air di Dekat Nord Stream
Modern Diplomacy
Rusia: NATO Menguji 'Peralatan' Bawah Air di Dekat Nord Stream 

TRIBUNNEWS.COM, MOSKWA - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova mengatakan pada Kamis lalu bahwa NATO melakukan latihan menggunakan peralatan laut dalam di daerah di mana kebocoran gas di jalur pipa Nord Stream 1 dan 2 terdeteksi pada minggu ini.

Ia menambahkan, seluruh Laut Baltik 'dikemas penuh' dengan infrastruktur militer blok tersebut.

Dikutip dari laman Russia Today, Sabtu (1/10/2022), berbicara dalam konferensi pers reguler pada Kamis lalu, Zakharova menepis tuduhan yang menyebut Rusia berada di balik insiden itu.

"Bolehkah aku bertanya pada kalian? Kapan tepatnya Rusia memutuskan ingin berhenti memasok energi ke Eropa?," kata Zakharova.

Zakharova mengatakan bahwa NATO terlibat dalam kegiatan militer di dekat lokasi di mana kebocoran ditemukan.

Ia mencatat peristiwa itu mungkin telah menghadirkan 'peluang' yang menarik bagi blok tersebut.

"Jadi, mungkin pangkalan NATO tidak pernah melakukan latihan di sana, sementara tentara Amerika tidak pernah ditempatkan di wilayah negara-negara terdekat?," jelas Zakharova.

Zakharova pun menyindir bahwa musim panas ini 'di daerah Bornholm Denmark, NATO melakukan latihan yang menggunakan peralatan laut dalam''.

Ia tampaknya mengacu pada Latihan Baltik Operasi (BALTOPS) 22 di Laut Baltik, yang berlangsung pada Juni lalu dan dimaksudkan untuk menunjukkan 'kemampuan berburu ranjau' blok militer.

Seperti yang  disampaikan dalam pernyataan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) pada saat itu.

Secara khusus, blok itu berusaha untuk bereksperimen dengan Unmanned Underwater Vehicles (UUV) dan menempatkannya di lepas pantai Pulau Bornholm.

Baca juga: Rusia: AS Dapat Banyak Keuntungan dari Kerusakan Pipa Nord Stream

Zakharova pun mendesak AS untuk memberikan 'penjelasan' dan 'mengakui' kebenaran, dengan mengatakan bahwa AS telah menyerahkan pekerjaan itu kepada mantan Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski, yang sebelumnya 'berterima kasih' kepada AS karena telah menghancurkan pipa itu.

NATO mengatakan pada Kamis lalu bahwa jaringan pipa rusak dalam apa yang tampak sebagai 'tindakan sabotase yang disengaja, sembrono dan tidak bertanggung jawab'.

Blok itu berjanji untuk menghadapi setiap serangan terhadap infrastruktur kritisnya 'dengan tanggapan yang bersatu dan teguh'.

Sementara itu, Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menggambarkan kebocoran Nord Stream kemungkinan terjadi karena 'tindakan teroris' yang tidak mungkin terjadi 'tanpa keterlibatan beberapa kekuatan negara'.

Perlu diketahui, pada Senin lalu, Denmark melaporkan terjadi kebocoran pada pipa itu setelah operator melaporkan hilangnya tekanan pada Nord Stream 1 dan 2.

Otoritas Denmark dan Swedia kemudian mengatakan telah terjadi serangkaian ledakan bawah laut di dekat Bornholm.

Secara total, hingga saat ini ada empat kebocoran gas yang terdeteksi di sistem Nord Stream.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas